Dibanding dengan Jepang, Jumlah Sensor Gempa Indonesia Sangat Jomplang - Jelajah Nasional

Monday, November 12, 2018

Dibanding dengan Jepang, Jumlah Sensor Gempa Indonesia Sangat Jomplang

Jelajah Nasional – Pemerintah bakal memperkuat sistem Indonesia tsunami early warning systems (INA-TEWs). Salah satunya menambah sensor gempa dan pelampung pendeteksi tsunami (tsunami buoy).

Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Rahmat Triyono mengungkapkan, saat ini Indonesia hanya memiliki 170 sensor gempa. Jumlah itu sangat jomplang jika dibandingkan dengan Jepang yang memiliki 1.500 sensor gempa. “Padahal, Indonesia memiliki luas tiga kali dari luas wilayah Jepang,” katanya kemarin (11/11).

Menurut dia, penambahan sensor gempa dan pendeteksi tsunami dimulai tahun depan dan berlangsung secara bertahap selama tiga tahun. Paling tidak, akan ada penambahan 275 sensor gempa. “Dengan semakin rapat sensornya, semakin cepat informasi yang dikirimkan,” jelasnya.

Dibanding dengan Jepang, Jumlah Sensor Gempa Indonesia Sangat JomplangDampak gempa dan tsunami di Sulawesi Tengah membuat kapal terdampar ke daratan. (Haritsah Almudatsir/Jawa Pos)

Selain itu, pemerintah rencananya meng-install sistem earthquake early warning system (EEWS) pada INA-TEWs. EEWS nanti mampu mendeteksi getaran gempa lebih dini. Rahmat mengatakan, ada dua macam getaran yang bergerak merambat. Yakni, getaran primer (P) dan getaran sekunder (S). Getaran P berasal dari hiposenter gempa di bawah tanah, sementara getaran S berpusat di episenter gempa di permukaan. “Jadi, sebelum getaran S yang merusak ini sampai, kita sudah bisa mendeteksi,” katanya.

Meski hanya memberi waktu beberapa detik, lanjut Rahmat, peringatan semacam itu penting untuk beberapa sistem. Misalnya, sistem kereta cepat. Ketika getaran terdeteksi, sistem secara otomatis mengirim perintah untuk mematikan listrik dan sinyal kereta cepat tersebut. “Dalam gempa, kereta cepat lebih berisiko. Kalau anjlok saat kecepatan tinggi, bahaya,” jelasnya.

Sistem itu, kata Rahmat, sudah digunakan secara luas di Jepang. Misalnya, untuk mematikan reaktor nuklir agar tidak terjadi kebocoran.

Sementara itu, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) bakal membuat alat pelampung pendeteksi gempa. Direktur Pusat Teknologi Reduksi Risiko Bencana (PTRRB) BPPT Eko Widi Santoso mengatakan, total ada delapan pelampung karya anak negeri yang akan dikerjakan.

“Rencananya, dibuat mulai 2019 hingga 2021,” jelasnya. Tahun depan ditargetkan ada dua pelampung buatan BPPT. Kemudian, untuk 2020 dibuat lagi tiga unit buoy. Begitu pula 2021.

(wan/tau/c6/agm)


Artikel yang berjudul “Dibanding dengan Jepang, Jumlah Sensor Gempa Indonesia Sangat Jomplang” ini telah terbit pertama kali di:

Sumber berita

No comments:

Post a Comment