600 Hari Berlalu, Kasus Penyerangan Novel Baswedan Temui Jalan Buntu - Jelajah Nasional

Friday, December 21, 2018

600 Hari Berlalu, Kasus Penyerangan Novel Baswedan Temui Jalan Buntu

Jawapos.com – Sudah 600 hari berlalu, kasus penyiraman air keras yang menimpa penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan. Kejadian yang berlangsung usai Salat Subuh itu mengakibatkan sebelah mata mantan anggota korps bhayangkara tersebut cacat.

Selama lebih dari 600 hari lebih itu, Novel sudah melakukan berbagai pengobatan hingga akhirnya bisa beraktivitas seperti biasa. Kendati demikian, hingga saat ini belum terungkap siapa orang yang melakukan penyiraman air keras itu.

Menanggapi belum terungkapnya kasus yang menimpanya, suami Rina Emilda ini pesimistis jika kasusnya akan diungap. Ini karena dia menilai ada jenderal besar dan orang-orang kuat yang terlibat dalam kasus yang menyerangnya.

Novel BaswedanNovel Baswedan saat peluncuran jam waktu penyerangannya (Intan Piliang/ Jelajah Nasional)

“Sejak awal saya yakin bahwa kasus saya tidak akan diusut, maka saya meminta kepada Presiden untuk membentuk TGPF,” kata Novel Baswedan ketika ditanya perihal harapan penanganan kasusnya.

“Kalau presiden takut dengan hal ini, maka saya kecewa. Dan kalau juga pimpinan KPK tidak mau mengungkap semua fakta penyerangan kepada pegawai KPK selama ini, maka ini memalukan sekali,” imbuh Novel.

Tak hanya Novel, harapan senada juga diutarakan oleh berbagai kalangan, di antaranya masyarakat sipil pegiat antikorupsi dan pegawai internal KPK. Mereka terus mendesak agar Presiden Jokowi mau kasus ini diungkap melalui jalur TGPF. 

Peristiwa yang menimpa Novel terjadi pada 11 April 2017, usai penyidik senior ini menunaikan Salat berjamaah di masjid dekat rumahnya. Tak ada firasat sama sekali bahwa peristiwa nahas ini akan menimpanya. Saat akan pulang ke kediamannya yang tak jauh dari masjid, tiba-tiba dua orang yang mengendarai motor dengan sigap langsung menyiramkan air keras tepat ke ke wajah Novel.

Peristiwa ini lantas membuat geger semua pihak. Setelah peristiwa ini terjadi, pihak Polri memang langsung melakukan gelar perkara guna menemukan siapa pelaku penyerangan. Sementara karena matanya tak bisa berfungsi dengan normal akibat penyiraman air keras tersebut, Novel langsung dilarikan ke rumah sakit terdekat, hingga ke RS di Singapura. Berbagai rangkaian pengobatan pun dilakukan agar kedua matanya bisa melihat dengan jelas.

Karena proses pengobatan ini, Novel sempat tak bisa bekerja untuk menuntaskan kasus yang ada di KPK sebagai penyidik. Sementara, perihal kasus penyeranganya, Novel sekitar tahun 2017 novel sudah menjalani proses pemeriksaan terkait kasus yang menimpanya. 

Pihak Polri sebenarnya juga sudah merilis sketas wajah pelaku penyiraman air keras kepada Novel. Tapi, sampai saat ini tak ada juga satu proses hukum yang tuntas.

Dalam beberapa kesempatan, Polri menyatakan masih melanjutkan proses penyelidikan kasus ini. Akan tetapi, Novel tak yakin kasus ini akan diusut tuntas. Menurut dia, proses penyelidikan itu hanya formalitas.

“Jadi kalau seumpama dikatakan ada proses yang berlangsung, saya katakan proses itu formalitas. Saya duga kuat proses itu formalitas,” tutur Novel.

Novel juga mengungkapkan keprihatinannya. Sebab, penyerangan semacam itu tidak hanya diterima olehnya saja. Pegawai KPK lainnya pernah mengalami teror dari orang tak dikenal.

“Di KPK itu yang diserang bukan cuma saya,” ujar Novel.

Dia menyebutkan beberapa contoh penyerangan yang dia maksud. Misalnya, safe house KPK pernah digerebek tanpa menggunakan aturan hukum.

Selain itu, pernah ada pegawai KPK yang menurutnya diculik. Meskipun pada akhirnya pegawai itu dilepas lagi. Dia juga menyinggung kasus penyiraman air keras pada mobil pegawai KPK yang pernah diungkap beberapa bulan lalu.

“Kemudian itu dibiarkan dan banyak lagi hal lain. Rumahnya dipasangi bom, walaupun setelah dicek ternyata bom itu palsu tapi harus diledakan juga karena rakitannya seperti asli,” kata dia.

Dia meyakini bahwa polisi takut untuk mengungkap kasusnya yang tidak biasa ini. Namun dia pun memaklumi jika pihak kepolisian merasa takut sebab bisa saja ada intervensi politik.

Dengan mandeknya kasus ini, Novel akhirnya hanya bisa berharap kepada Presiden Joko Widodo. Novel berharap Jokowi bersikap berani dengan aktif dalam pengungkapan kasus penyerangannya dan pegawai KPK lain.

Bagi Novel, Presiden adalah sosok yang paling diharapkan untuk menuntaskan kasus yang membuat penglihatannya tak lagi sempurna itu. Dia mengaku kecewa apabila Jokowi bersikap takut seperti anggapannya kepada Polri.

“Pertanyaannya, kira-kira Presiden takut enggak mengungkap ini? Kalau Presiden takut mengungkap ini, saya sangat sedih,” ujar Novel.

“Kenapa? Karena Presiden yang paling bisa kita harapkan dan yang memimpin bangsa ini,” pungkas dia.

Saat ini, Novel memang sudah berkerja kembali di lembaga antikorupsi, meski mata tak sepenuh berfungsi normal namun baginya semangat melawan korupsi akan terus digaungkan.

Setiap jalan yang dilalui Novel memang tak mudah, beberapa pihak ada yang mendukung dan menjatuhkan. Beberapa waktu lalu, pihak Ombudsman merilis temuan pelanggaran Ombudsman dalam menuntaskan kasus Novel. Saat itu, pihak Komisioner Ombudsman Adrianus Meliala menilai penyidik senior KPK yang menjadi korban ini tidak kooperatif dalam menyampaikan keterangan. Oleh karena itu dia meminta agar menjalankan proses pemeriksaan kembali. Dia juga menyebut CCTV asli diambil oleh KPK sedangkan kloning diserahkan kepada Polri.

Novel pun naik pitam, dia menegaskan semenjak di Singapura sudah menjalani proses pemeriksaan, selalu menyampaikan keterangan sesuai apa yang dia ketahui.

“Ini suatu hal yang luar biasa Karena seorang pejabat di Ombudsman melakukan serangan ini yang kemudian kita lihat saya sebagai suatu hal yang keanehan,” tutur Novel.

“Saya tidak yakin ini adalah serangan dari Ombudsman tapi saya menjadi curiga bahwa Pak Adrianus punya Conflict of Interest dalam masalah ini,” tukasnya.

Wadah Pegawai KPK pun selalu ada di belakang Novel. Bahkan saat memasuki hari ke 600 dilakukan peluncuran hitung jam kasus penyerangan Novel.

Namun hal berbeda ditunjukkan sejumlah pimpinan KPK. Mereka masih meyakini kasus Novel akan diungkap secara gamblang oleh pihak Polri. Karena, menurutnya hanya Polri yang mampu menyelesaikan kasus ini.

“Kita masih percaya dan optimis serta berharap  akan ada perkembangan tentunya, kita tunggu saja ya,” kilah Saut.

“Kita serahkan ke ahlinya. Kepolisian RI memiliki kewenangan, kemampuan dan kapasitas untuk mengusut pelaku kejahatan. KPK masih percaya kepada Polri,” tutup Alex.

Kini, hanya tinggal menunggu waktu apa kasus Novel akan diungkap secara nyata. Nampaknya hal yang mustahil kasus ini akan terungkap jika presiden tidak berani membentuk TGPF. Ini karena beberapa kali Novel mengatakan jika ada jenderal yang mendalangi kasus penyiraman air keras yang menimpanya.

(ipp/JPC)


Artikel yang berjudul “600 Hari Berlalu, Kasus Penyerangan Novel Baswedan Temui Jalan Buntu” ini telah terbit pertama kali di:

Sumber berita

No comments:

Post a Comment