Dari Reuni Akbar 212 Hingga Janji Potong Leher La Nyalla - Jelajah Nasional

Sunday, December 30, 2018

Dari Reuni Akbar 212 Hingga Janji Potong Leher La Nyalla

Jelajah Nasional – Akhir tahun 2018 ditutup dengan sejumlah peristiwa politik besar. Hasil rangkuman Jelajah Nasional, setidaknya ada sejumlah momen yang menyedot perhatian publik, dan penuh syarat emosional. Mulai dari Reuni Akbar Alumni 212 hingga La Nyalla yang berjanji memotong lehernya sendiri Jika Prabowo-Sandi Menang Di Madura pada Pilpres 2019 nanti

2 Desember 2018 tepat dua tahun setelah aksi massa yang menamakan diri mereka massa 212. Kala itu pada 2 Desember 2017 mereka menggelar unjuk rasa besar-besaran yang diperkirakan diikuti oleh 7 juta umat Islam dari seluruh Indonesia. Massa pada saat itu menuntut agar Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok diadili atas perbuatan penistaan agama.

Prabowo SubiantoKetum Gerindra Prabowo Subianto saat berjabat tangan erat dengan Ketua Kadin Jawa Timur La Nyalla Mattalitti. Kala itu keduanya masih sinergis. Kini La Nyalla pindah kubu. (istimewa)

Setelah dua tahun berselang massa Alumni 212 kembali menggelar reuni akbar di Monumen Nasional (Monas) Jakarta pada Minggu (2/12). Dalam acara ini turut dihadiri oleh sejumlah politisi kondang, termasuk Prabowo Subianto di dalamnya.

Guna menyambut kedatangan para massa, pengelola Monas bahkan membuka lokasi tersebut selama 24 jam. Betul saja, sejak Sabtu (1/12) malam, peserta sudah mulai berdatangan. 

Adanya aksi massa ini lantas memicu sejumlah polemik. Seperti Wakil Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Zainut Tauhid Saadi tidak melihat adanya urgensi yang serius dari acara reuni tersebut. Dia bahkan khawatir tujuan suci 212 mulai bergeser untuk kepentingan politik praktis.

Zainut mengatakan, pada awalnya euforia 212 diikuti banyak gagasan kreatif untuk pemberdayaan masyarakat. Di antaranya melalui penguatan perekonomian. Terutama pada usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Misalnya lahirnya koperasi atau ritel 212. Selain itu, banyak produk yang dilabeli 212.

“Kalau sekadar reuni dan silaturahmi, betapa besar energi yang harus dikeluarkan oleh umat,” ujarnya.

Kekhawatiran yang sama juga ditunjukan oleh Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Wiranto. Dia berharap reuni 212 jilid dua ini kalau pun ada izin dan demonstrasi harus patuhi aturan yang berlaku. Tidak boleh menyimpang dari maksud izin dan jangan sampai ditunggangi pihak lain yang justru akan menodai niat baik itu.

“Jangan sampai ditunggangi pihak lain yang justru menodai niat baik, yang penting itu,” katanya.

Begitu pun dengan Ketua Setara Institute Hendardi pun menilai reuni 212 ini sebuah gerakan politik, maka visi ke depannya tak bakal jauh-jauh alias serupa. 

“Jangan heran kontinuitas gerakan ini akan menjadi arena politik baru yang akan terus dibangkitkan, sejalan dengan agenda-agenda politik formal kenegaraan,” ujarnya melalui pesan singkat yang diterima Jelajah Nasional, Jumat (1/12).

Stigma itu lantas dibantah oleh Sekretaris Panitia Pelaksana Reuni Akbar Aksi Bela Islam 212 itu menegaskan, kegiatan tersebut sebagai bentuk rasa syukur atas bersatunya umat Islam pada aksi 212 di tahun lalu.

“Panitia reuni akbar 212 mengadakan reuni bukan dalam konteks politik tertentu,” kata Al Khatthath di kawasan Cempaka Putih, Jakarta Pusat, Jumat (1/12).

Meski demikian, Al Khattaht tidak mempermasalahkan jika ada pihak yang menilai ada maksud politik di balik acara tersebut. “Kami syukuri ini dilarang, karena bersyukur atas bersatunya umat itu adalah politik, itu monggo silakan dilarang. Tapi kami dalam rangka kebersatuan umat,” ungkap Al Khattaht.

Polemik tak hanya berhenti disitu, Praktisi hukum yang kini menjadi calon anggota legislatif (caleg) PDI Perjuangan Kapitra Ampera mengatakan akan membuat aksi tandingan reuni 212. Dia mengklaim bahwa aksinya akan diikuti oleh empat juta orang.

“Nanti ada dua sampai empat juta orang lah yang dikerahkan. Pemberitahuan sudah diserahkan ke Polda Metro Jaya,” kata dia, Rabu (28/11).

Menurut Kapitra, massa yang akan menghadiri Aksi Pencerahan Anak Bangsa terdiri atas berbagai macam organisasi dan pesantren. Bahkan, akan ada yang datang dari luar Jawa.

“Di sini banyak tokoh-tokoh pesantren, kelompok pemilik-pemilik pesantren. Dan kami sudah berkomunikasi sampai ke Madura, kami sudah berkomunikasi sampai NTB, dan mereka siap hadir untuk memberi pencerahan kepada sesama umat Islam,” tegas pegiat di Forum Silaturahmi Aktivis 212 itu.

Perdebatan lain pun muncuk, ketia panitia reuni 212 memutuskan tidak mengundang Presiden Joko Widodo (Jokowi) hadir diacara itu. Namun, mereka hanya mengundang kompetitor Jokowi di Pilpres 2019, Prabowo Subianto. 

Perdebatan semakin sengit ketika Imam Besar Front Pembela Islam (FPI), Habib Rizieq Shihab (HRS) menyuarakan 2019 Ganti Presiden di dalam pidatanyo melalui tayangan jarak jauh dari Arab Saudi. Pernyataan tersebut dianggap semakin menguatkan jika acara tersebut kental dengan aroma politik. 

“Sekali lagi di pilpres dan pileg, haram kita memilih capres-cawapres yang anti agama, anti pancasila, dan anti kebinekaan,” kata HRS.

“Ayo kita pilih capres dan cawapres hasil ijtima ulama. Ayo. Kita pilih caleg, hanya dari partai Koalisi Keumatan. Jangan khawatir, kita bersama Allah, kita mencari ridho Allah swt,” tegasnya.

Meski demikian, dengan segala polemik yang muncul, reuni 212 tetap berjalan lancar dan damai. Tidak ada bentrok terjadi antara sesama peserta. Bahkan, Pendakwah Kondang Indonesia Ustad Yusuf Mansyur mengajak semua pihak untuk tetap berpikir positif dari kegiatan yang dihadiri jutaan umat tersebut. Dia bilang, seluruh bangsa harus mengambil hikmah dari acara Reuni Akbar 212.

“Selama kita positif, positif aja. Ambil saja kebaikannya, hikmahnya, hal-hal baiknya,” kata Ustad Mansyur kepada Jelajah Nasional.

Ustad yang terkenal dengan aksi gerakan sedekahnya itu juga meminta masyarakat menjauhi pemikiran-pemikiran negatif mengenai aksi tersebut. Apalagi sampai terus menerus diperdebatkan di media sosial.

Usai Reuni Akbar 212, publik digegerkan dengan janji politis La Nyalla Mattalitti Potong Leher Jika Prabowo Menang Di Madura. Ketua Kadin Jawa Timur itu, mendadak mendatangi kediaman Calon Wakil Presiden (Cawapres) nomor urut 01, Ma’ruf Amin di Jalan Situbondo Nomor 12, Menteng Jakarta Pusat, Selasa (11/12).

Dalam kedatangannya, mantan Ketua Umum PSSI itu mengaku membawa misi menyampaikan dukungan bagi pasangan 01. Selain itu sekaligus untuk menjenguk Ma’ruf yang dikabarkan baru sembuh dari sakit.  

“Dari awal memang niat saya ingin memenangkan Jokow-Ma’ruf Amin. Sekarang ini saya cuma laporan saja, karena saya dengar katanya beliau (Ma’ruf, Red) sakit,” ujar La Nyalla.

Lebih lanjut, La Nyalla menolak kembali membahas Prabowo Subianto selaku pihak yang pernah didukungnya. Bahkan diketahui La Nyalla pun pernah menjadi kader Gerindra. Dia sudah mantap untuk mendukung pasangan 01.

“Lupakan Prabowo. Tidak usah ngomong pak Prabowo lagi. Kita sudah mau memenangkan Joko Widodo dan Ma’ruf Amin,” tegasnya.

Selain memberikan dukungan, La Nyalla pun turut mengakui sebagai dalam penyebaran majalah Obor Rakyat pada Pilpres 2014 silam. Ia bahkan mengaku telag meminta maaf langsung kepada Jokowi terkait hal itu.

“Saya datang ke beliau (Jokowi, Red), saya minta maaf. Bahwa saya yang isukan pak Jokowi PKI. Saya yang fitnah pak Jokowi turunan Tionghoa. Saya yang sebarkan (majalah, Red) Obor di Jawa Timur, Madura,” kata La Nyalla.

Mantan Ketua Umum PSSI itu mengaku telah salah menuding Jokowi dengan isu PKI, atau anti Islam. Bahkan dia sudah mendatangi langsung kampung halaman Jokowi di Boyolali, dan menurut pengakuan tetangga, Presiden ketujuh itu rajin belajar agama sejak kecil. 

Lebih lanjut La Nyalla mengatakan akan bekerja keras untuk pemenangan Jokowi-Ma’ruf di Jawa Timur. Di wilayah tersebut dia menjajikan raihan suara minimal 70 persen.

“Saya enggak perlu ngomong soal kontribusi.  Pokoknya anda tahu Pak Jokowi menang di Jawa Timur. Targetnya saya Pak Jokowi harus menang di atas 70 persen,” ujar La Nyalla di Rumah Situbondo Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (11/12).

Untuk di Madura pun yang pada Pilpres 2014 menjadi basis pemilih Prabowo, La Nyalla menjajikan kemenangan untuk Jokowi. Bahkan hal itu dianggapnya harga mati. “Saya kan udah ngomong potong leher saya kalau Prabowo bisa menang di Madura,” tegasnya.

Sementara itu, Juru Bicara Badan Pemenangan Nasional Prabowo-Sandi, Andre Rosiade tidak percaya La Nyalla berani merealisasikan tantangannya. Ia beranggapan itu hanya sekedar pernyataan kosong tak berisi seperti yang pernah dilakukan Ruhut Sitompul yang berjanji memotong telinganya jika Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok kalah di Pilkada DKI Jakarta 2017. 

“Gue enggak yakin dia (La Nyalla, Red) mau motong leher. Kemarin juga ada yang janji potong kuping waktu Pilkada DKI, sekarang orang itu kupingnya masih dua,” kata Andre kepada Jelajah Nasional, Kamis (13/12).

Lebih lanjut, politikus partai Gerindra itu meminta agar para seluruh pihak tidak menggunakan istilah yang bisa memicu kegaduhan. Hal ini demi menjaga terwujudnya Pemilu damai.

“Kita jangan menggunakan diksi-diksi begitu, karena kita kan Pemilu yang menyenangkan, gembira, bukan yang pakai cara-cara yang kurang beradab,” jelasnya.

Di sisi lain, Andre mengatakan koalisinya tetap optimis mampu kembali meraih kemenangan di Madura seperti Pilpres 2014 lalu. Bahkan target suara di sana harus di atas 50 persen. “Kami tetap optimis kita akan menang di Jawa Timur maupun Madura, karena intruksinya begitu. Insya Allah di atas 50 persen,” pungkasnya 

Selain itu, kubu 02 pun mengaku tak mau ambil pusing atas keputusan La Nyalla yang pindah ke kubu sebelah. Menurutnya itu hal lumrah dalam politik.

Desember juga ditandai dengan isu perpindahan Markas BPN Pindah ke Kandang Banteng di Jawa Tengah. Ini disampaikan Sudirman Said kala meresmikan Posko Relawan Prabowo-Sandi di Lebaksiu, Kabupaten Tegal, Sabtu (8/12).

Sudirman yang hadir sebagai Direktur Materi Debat Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi mengatakan, Jateng merupakan provinsi penting. Yang harus dimenangkan pasangan capres-cawapres nomor urut 02 pada Pilpres 2019 besok.

Kemenangan di Jateng besar pengaruhnya secara nasional,” kata Sudirman, yang juga Koordinator Relawan PADI Jateng ini. Sandi, kata Sudirman, juga sudah menaruh perhatian khusus pada provinsi yang dikenal sebagai Kandang Banteng atau basisnya PDIP.

Juru Bicara Prabowo-Sandiaga, Ferdinand Hutahean mengatakan, dipilihnya Jateng lantaran ingin merebut dominasi PDI Perjuangan. Paslon jagoannya, lanut dia, ingin menang mutlak melawan rivalnya.

“Kami ingin memastikan kemenangan kami mutlak. Kami punya survei sendiri, kami punya peta lapangan sendiri memang ya agak kami ragukan agaknya Jawa Tengah,” kata Ferdinand saat ditemui di Jalan HOS Cokrominoto, Jakarta Pusat, Minggu (9/12).

Ferdinand mengakui jika merebut dominasi sepenuhnya di Jawa Tengah bukanlah perkara mudah. Untuk itu, dia menargetkan setidaknya mampu meraup suara sekitar 35-40 persen.

“Kami tidak berharap menang atau unggul di Jateng. Tapi, target 35-40 persen sudah membuktikan bahwa Prabowo-Sandi akan menang di atas 55 persen,” pungkasnya.

Sementara itu, Juru Bicara Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma’ruf Arya Sinulingga mengaku tidak risau atas pemindahan posko pemenangan BPN ke Provinsi berjuluk kandang Banteng itu. Menurutnya pemilih di sana tetap akan tetap setia kepada paslon nomor urut 01.

“Kita tidak pernah khawatir karena Jawa Tengah itu basis yang sangat kuat untuk Pak Jokowi. Mereka merasakan bagaimana hasil pembangunan yang dilakukan Pak Jokowi,” ujar Arya di Rumah Cemara Menteng, Jakarta Pusat, Senin (10/12).

Selain itu, politikus partai Perindo itu mengklaim bahwa elektabilitas Jokowi di Jawa Tengah masih sangat tinggi. Sehingga diyakini akan sulit disusul. “Survei sampai hari ini malah mengatakan bahwa 70-an persen ke pak Jokowi. Survei mereka juga mengatakan begitu kok. Jadi kami sih yakin itu nggak akan menggeser kita,” imbuhnya.

Di sisi lain, Arya menilai adanya pemindahan posko pemenangan ini sebagai bentuk kegagalan kubu Prabowo meraup pundi-pundi suara di Jakarta dan sekitarnya. Sehingga mereka harus berputar otak mencari alternatif lain.

“Mereka gagal mengonsolidasikan suara di Jakarta dan Banten kemudian Jawa Barat juga. Akhirnya mereka menggeser ke Jawa Tengah. Itu adalah bukti bahwa mereka tidak mampu meraup suara,” jelasnya.

(sat/JPC)


Artikel yang berjudul “Dari Reuni Akbar 212 Hingga Janji Potong Leher La Nyalla” ini telah terbit pertama kali di:

Sumber berita

No comments:

Post a Comment