Masihkah Kita Indonesia? - Jelajah Nasional

Saturday, December 29, 2018

Masihkah Kita Indonesia?

Jelajah Nasional – Kehidupan beragama yang rukun dan damai adalah cita-cita luhur kita. Dulu, keberagaman dalam keberagamaan ini telah menjadi laku keseharian. Hari-hari ini, ia kembali menjadi cita-cita.

Ujaran kebencian, fitnah, gosip, kabar dusta, dan propaganda tak henti-hentinya dijejalkan ke akal sehat masyarakat. Perdebatan, perselisihan, pertengkaran, serta permusuhan telah dijadikan menu konsumsi sehari-hari.

Bangsa ini sudah melakoni perjalanan teramat panjang ketika menerima asas tunggal Pancasila. Kelima sila itu adalah intisari Bhinneka Tunggal Ika, berbeda-beda tetapi satu jua hakikatnya. Namun, saat ini bahkan calon presiden Prabowo Subianto mengancam Indonesia akan punah jika dirinya tak terpilih. Sebelumnya, dia juga mengatakan Indonesia akan bubar pada 2030. Prabowo mungkin sedang menggertak, bahkan mungkin dengan menggebrak. Namun, poinnya, betulkah Indonesia akan bubar dan punah?

Masihkah Kita Indonesia?Ilustrasi: Masihkah Kita Indonesia? (Hendra Eka/Jawa Pos)

Dalam banyak kesempatan, terutama pada hari-hari peringatan kemerdekaan Indonesia, saya acap menyinggung ini. Bila dihitung dari 28 Oktober 1928, yaitu ketika Sumpah Pemuda diserukan dan pemuda-pemudi mengikrarkan dirinya sebagai putra-putri Indonesia, kini usia Indonesia 90 tahun. Kalau angka umur dimulai dari 17 Agustus 1945, pada Hari Proklamasi, usia kita sekarang 73 tahun.

Kita adalah generasi pertama Indonesia pada 100 tahun pertama. Kita pula yang menjadi penentu bangsa Indonesia akan mati muda, mati suri, mati selamanya, ataukah berumur panjang, bahkan lebih panjang daripada umur bangsa Nusantara. Ini terutama ditentukan oleh mampu tidaknya kita menerima dan merawat khazanah keberagaman suku, ras, agama, aliran keyakinan, dan adat istiadat sebagai jati diri bangsa.

Perbedaan pilihan politik telah menjadi poros dalam pusaran kebinekaan kita. Aliran-aliran dalam kelompok masyarakat muslim di Indonesia, misalnya. Sekarang, tampaknya, tidak lagi dicirikan dengan Sunni dan Syiah atau bahwa Islam pasca wafatnya Rasulullah SAW niscaya terdiri atas 73 aliran sebagaimana yang disebutkan dalam hadis.

Namun, masyarakat muslim di Indonesia terbagi dalam kelompok Islam pendukung Joko Widodo dan KH Ma’ruf Amin serta kelompok Islam pendukung Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno. Pandangan itu bisa saja salah. Namun, pembelahan tersebut semakin kentara saja di masyarakat.

Di dalam satu payung organisasi yang sama, sesama anggotanya saling intip siapa mendukung siapa. Jika kemudian berbeda pilihan, sikap satu sama lain menjadi berubah pula.

Ironisnya lagi, bencana alam tidak luput dijadikan amunisi untuk provokasi, terutama dalam perbincangan di media sosial. Ada saja kalangan yang menilai gempa bumi dan tsunami di sejumlah daerah di Indonesia sebagai azab dari Tuhan kepada kaum tertentu yang tak seiman dengan mereka atau berbeda pandangan dalam beragama. Namun, ujung-ujungnya kembali ke soal politik.

Tudingan bidah atau mengamalkan sesuatu yang tidak diajarkan Nabi Muhammad SAW tak juga surut. Bahkan, terjadi pemusyrikan terhadap upacara adat seperti sedekah laut oleh nelayan di pesisir dan sedekah bumi oleh petani di pedesaan. Tradisi yang telah sekian lama bisa berdampingan dengan agama dan baik-baik saja kini justru seperti diusir dari rumahnya sendiri.

Simpati dan empati bagaikan sepasang sayap yang telah patah di negeri ini. Tak tahu di mana perasaan dukacita berada dalam diri para perundung yang, misalnya saja, justru menganggap para personel band Seventeen terkena azab lantaran bermain musik yang dinilainya haram. Padahal, kesedihan akibat tsunami di Tanjung Lesung, Pandeglang, Banten, masih melelehkan air mata kita bersama.

Gesekan antarumat beragama juga terjadi. Tidak seluruhnya berdampak nasional, sesungguhnya. Andaikata terjadi di era koran masih merajai pembentukan opini publik, belum tentu peristiwa tersebut mendapat porsi pemberitaan yang besar. Namun, era media sosial sudah mengubah banyak hal. Tak bisa benar-benar disebut jurnalisme warga, tetapi lihatlah betapa semua orang kini ingin jadi pewarta. Tentu, susah mengharapkan kabar yang disebarkan itu memenuhi kaidah-kaidah jurnalistik yang pakem.

Sepanjang tahun 2018, yang diwarnai pula dengan pembubaran Hizbut Tahrir Indonesia dan pembakaran bendera hitam bertulisan kalimat tauhid di Garut, Jawa Barat, perdebatan tentang khalifah juga masih mengemuka di negeri ini. Kekhalifahan bukan tak ada akarnya di Nusantara, setidaknya di Jawa. Dalam pembukaan Kongres Umat Islam Indonesia Ke-6 di Jogjakarta, 12 Februari 2015, kekhalifahan disinggung.

Dalam pidato, Sultan Hamengku Buwono X menegaskan hubungan antara Keraton Jogjakarta dan Kekhalifahan Utsmani di Turki -yang runtuh pada 1924. Hubungan terjalin sejak Sultan Turki mengukuhkan Sultan Demak Pertama, Raden Patah, sebagai Khalifatullah ing Tanah Jawa, yang itu berarti perwakilan kekhalifahan Islam di Turki untuk Tanah Jawa. Sultan Turki waktu itu memberikan sepasang tanda pengabsahan.

Masyarakat muslim adalah mayoritas di Indonesia. Karena itu, alangkah lebih baik jika lebih memfokuskan diri pada ikhtiar menjaga persatuan dan kesatuan bangsa di atas segala-galanya. Sebab, untuk urusan kemerdekaan beribadah, tentu saja umat muslim tidak menghadapi persoalan sebagaimana umat beragama dan berkeyakinan lain. Menjadi semakin terhormat dan mulia rasanya jika umat muslim menggunakan agama bukan untuk syahwat politik, melainkan untuk membangun peradaban dan manusia Indonesia.

Sejak mula, dakwah Islam di Nusantara dilakukan tidak dengan memberangus tradisi, tetapi justru merangkul dan menjadikannya sarana pengembangan Islam. Arsitektur Masjid Demak yang dibangun Wali Sanga menjadi petunjuk penting dialektika perjumpaan antara agama dan budaya. Mempertahankan gaya atap berlapis, dibangunlah atap berlapis tiga, simbol tiga tahap keberagamaan dalam Islam. Yaitu, iman, Islam, dan ihsan. Itu meneguhkan betapa agama dan budaya dapat bersanding dalam kesemestaan yang indah.

Lebih dari itu, para sunan berhasil membumikan ajaran langitan Islam sesuai dengan ruang dan waktu, al islamu shalihun li kulli zaman wa al makan. Bahkan, yang pada mulanya tontonan diolah menjadi tuntunan, menjadi bahan hidup untuk kehidupan, menjadi kisah yang tidak habis-habis diceritakan hingga pada akhirnya menjadi pedoman. Demi mengajak masyarakat berikrar Syahadattain, misalnya, Sunan mengadakan Sekaten yang bahkan mentradisi sampai sekarang.

Dari batik, yang merupakan perlambang dari huruf ba’ dititik, Sunan perlahan tapi penuh ketekunan mengajarkan bahrul qudra dan nilai-nilai tasawuf lainnya dalam kehidupan. Kita juga bisa mendapatkan pelajaran yang sangat banyak dan adiluhung dari wayang kulit serta dongeng-dongeng di dalamnya. Masih ada pula keris, dhaharan tumpeng, sesajen, dolanan bocah, busana, serta berbagai tata cara hidup serta berkehidupan lain yang diwariskan Wali Sanga.

Satu pertanyaan sederhana untuk merenungi tahun 2018 yang lekas berlalu dan Tahun Baru 2019 yang sebentar lagi datang: Masihkah kita Indonesia?

Siskamling dan bebunyian kentongan telah berganti portal dan satpam kompleks. Internet dan media sosial berhasil mendekatkan yang jauh sekaligus menjauhkan yang dekat. Privasi kini telah dijadikan perbincangan yang seolah seluruh dunia harus tahu. Globalitas telah menggerus lokalitas. Modernitas pun sudah mengakuisisi identitas. Agama yang selayaknya menjadi urat nadi kehidupan justru dijadikan otot-otot untuk bersitegang sesama manusia.

Akankah tahun depan sama belaka? 

(*)


Artikel yang berjudul “Masihkah Kita Indonesia?” ini telah terbit pertama kali di:

Sumber berita

No comments:

Post a Comment