Nh. Dini dan Pertarungan Perempuan Hari Ini - Jelajah Nasional

Saturday, December 8, 2018

Nh. Dini dan Pertarungan Perempuan Hari Ini

Jelajah Nasional – Nh. Dini meninggalkan kita pada Selasa (4/12) lalu tepat di tengah rangkaian 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan yang secara global biasa disebut dengan 16 Days of Activism. Sungguh itu bukan kebetulan.

Ini adalah momentum untuk kembali membaca karya-karyanya, untuk menghayati semangatnya, untuk memahami betapa berliku dan panjangnya perjuangan dalam membangun narasi serta diskursus wacana yang berpihak pada kesetaraan perempuan.

Nh. Dini adalah pengarang yang sedari awal memorak-porandakan bangunan ideal sosok perempuan, perkawinan, kisah cinta, dan keluarga. Dalam sejarah sastra Indonesia, dia melanjutkan apa yang telah dimulai Armijn Pane melalui novelnya, Belenggu (1940).

Nh. Dini dan Pertarungan Perempuan Hari IniNh Dini (Instagram/patrickdanardono)

Tahun 1938, Balai Pustaka menolak menerbitkan Belenggu dengan alasan karya itu tidak bermoral dan bertentangan dengan nilai-nilai dalam masyarakat. Belenggu akhirnya diterbitkan Pustaka Rakyat dua tahun kemudian.

Hampir 40 tahun kemudian, Dini mengalami hal serupa dengan yang dialami Armijn Pane. Dalam Pertemuan Sastrawan 1974, Pada Sebuah Kapal (1972) dikecam karena dianggap membenarkan perzinaan dalam perkawinan.

Sama seperti Belenggu, karya Dini juga dianggap menyimpang dan rawan merusak moral dalam masyarakat. Novel-novel Dini selalu menghadirkan sosok yang dianggap menyalahi norma dalam masyarakat.

Itu juga tak lepas dari sosok dan pengalaman hidup Dini yang menikah dengan pria Prancis Yves Coffin, lalu bercerai. Keputusan Dini untuk menikah dengan pria asing sedikit banyak menunjukkan bahwa dia perempuan yang berpikiran terbuka dan punya keberanian untuk melakukan hal-hal yang berbeda dari kebanyakan orang.

Dalam Pada Sebuah Kapal, Sri yang bersuami pria Prancis berhubungan gelap dengan seorang kapten kapal warga negara Jerman bernama Michel. Mereka bertemu dalam kapal yang dinaiki Sri dari Jepang ke Prancis, sementara suaminya naik pesawat terbang.

Di sepanjang perjalanan kapal, mereka memadu cinta. Hubungan itu tetap berlanjut setelah kapal tiba di Prancis. Sri maupun Michel digambarkan sebagai orang yang tak bahagia dengan kehidupan rumah tangga masing-masing dan mendapatkan kebahagiaan dari hubungan gelap yang sedang dibangun.

Masalah perkawinan kembali hadir dalam La Barka (1975). Di novel itu Dini mengisahkan sekelompok orang yang sama-sama memiliki masalah dalam perkawinan dan sedang menanti proses perceraian. Dini menjungkirbalikkan konsep umum tentang pernikahan dan kesetiaan.

Dini menghidupkan keberanian bagi perempuan untuk mengambil pilihan. Berselingkuh dan bercerai bukan hal yang tabu dilakukan jika memang itu yang bisa membawa kebahagiaan.

Keberanian dan kekuatan perempuan yang bertentangan dengan norma masyarakat pada umumnya kembali hadir dalam Namaku Hiroko (1977). Hiroko, gadis desa dan tak berpendidikan yang awalnya lugu, menjelma menjadi perempuan dewasa yang materialistis, yang tahu bagaimana menggunakan tubuhnya untuk mencari penghasilan.

Hiroko dengan sadar memilih menjadi hostes dan penari telanjang. Sebuah profesi yang masih tak bisa diterima kebanyakan masyarakat, bahkan hingga hari ini. Seseorang yang menjadi hostes dan penari telanjang pasti serta-merta akan mendapat cap negatif dan dipandang hina. Tapi, Dini mengajak pembaca untuk tidak cepat menghakimi. Dengan novelnya, Dini membuat pembaca melihat segala sesuatu dari sudut pandang yang berbeda.

Dini dengan novel-novelnya telah membawa karya sastra sebagai sarana untuk mempertanyakan dan mengkritik norma-norma dalam masyarakat. Dini menolak tunduk dalam kenyamanan, berkarya sesuai norma umum yang dianut.

Dini tidak menghadirkan kisah cinta dan perkawinan hanya untuk konsumsi waktu senggang. Dan memanjakan imaji tentang perempuan sebagaimana yang ada dalam narasi utama zaman itu -juga zaman ini.

Hari ini, 46 tahun setelah lahirnya Pada Sebuah Kapal, kita masih dihadapkan pada situasi yang sama dengan yang dulu dihadapi Dini dalam kehidupan nyata maupun penggambaran yang dihadirkan Dini dalam semesta fiksinya. Perempuan masih harus tunduk dalam imaji ideal yang dibangun narasi patriarki dengan menggunakan agama dan budaya sebagai dalil pembenar.

Lihat saja bagaimana akun-akun media sosial sibuk menyebarkan meme, kutipan, “dakwah”, yang hanya berkutat pada bagaimana seharusnya menjadi perempuan yang baik dan benar. Lihat saja bagaimana hingga hari ini, perempuan yang memutuskan bercerai atau memilih menjadi lajang masih menjadi bahan pergunjingan.

Belum lagi soal perdebatan mana yang lebih baik: perempuan yang bekerja atau tinggal di rumah? Perempuan yang memakai baju seksi atau berpakaian sesuai syari?

Sungguh, Nh. Dini melalui karya-karyanya mengajak perempuan untuk berani bersikap, bersuara, berbeda dari kebanyakan, atau menyimpang dari apa yang dipaksakan sebagai kebenaran. Nh. Dini dan karya-karyanya akan terus menemani perjuangan kesetaraan perempuan, di hari ini dan masa yang akan datang. 

(*/c9/ttg)


Artikel yang berjudul “Nh. Dini dan Pertarungan Perempuan Hari Ini” ini telah terbit pertama kali di:

Sumber berita

No comments:

Post a Comment