Pensiun Jadi Hakim, Artidjo Pilih Jadi Pedagang di Kampung Halamannya - Jelajah Nasional

Saturday, December 22, 2018

Pensiun Jadi Hakim, Artidjo Pilih Jadi Pedagang di Kampung Halamannya

Jelajah Nasional – Setelah 18 tahun menjadi hakim agung, Artidjo Alkostar resmi mengakhiri karienya sebagai hakim sejak Selasa, 22 Mei 2018. Asam manis peradilan dan dunia hukum telah Artidjo raup sejak dirinya bergelut sebagai advokat. Selama mengabdi sebagai hakim agung, Artidjo telah menangani sebanyak 19.708 berkas perkara.

Saat terakhir berada di lingkungan MA, pria kelahiran Situbondo Jawa Timur ini mengaku tidak berniat kembali ke dunia hukum. Artidjo mantap untuk melepas dunia hukum yang selama ini telah digelutinya.  Dia mengaku ingin kembali menjadi orang desa dan mengembangkan usahanya di Sumenep, Jawa Timur.

“Saya tidak kembali lagi ke habitat saya sebagai advokat. Jadi saya kembali lagi ke orang desa. Mengembangkan usaha rumah makan yang di Sumenep,” kata Artidjo di Gedung MA, Jumat, 25 Mei 2018 lalu.

Artidjo AlkostarProfil Hakim Artidjo Alkostar (Koko/Jelajah Nasional)

Mantan ketua kamar pidana MA ini merupakan seorang yang bertangan dingin jika memutus perkara korupsi. Dia tidak segan memperberat hukuman untuk para koruptor yang mengajukan upaya hukum hingga tingkat kasasi ke MA.

Sebut saja terpidana korupsi kartu tanda penduduk elektronik (e-KTP) Irman dan Sugiharto yang divonis 15 tahun penjara oleh Artidjo. Padahal pada pengadilan tingkat pertama, Irman dan Sugiharto divonis 7 tahun penjara. Sehingga sikap Artidjo dinilai tegas untuk menangani perkara korupsi.

Artidjo mengungkapkan, menjadi seorang hakim agung adalah sebuah tantangan, karena untuk memutus perkara di MA memerlukan keahlian, ketekunan dan keterampilan khusus. Sehingga putusan yang keluar adalah putusan yang berkualitas.

Oleh karenanya, Artidjo berharap ketua kamar pidana yang menggantikannya dapat memutus perkara yang berkualitas. Dia ingin pimpinan kamar pidana MA menjadi lebih baik lagi selepas ditinggal olehnya.

“Saya percaya pengganti saya itu lebih baik dari saya. Mari kita jaga negara yang besar ini, marwah negara kita sebagai negara hukum mari kita jaga,” ucap Artidjo.

Pengganti Artidjo Ditemukan

Mahkamah Agung (MA) menunjuk hakim agung Suhadi sebagai ketua kamar pidana MA menggantikan posisi Artidjo Alkostar yang telah purna tugas sejak 22 Mei 2018. Juru bicara MA itu resmi memimpin kamar pidana sejak Selasa, 9 Oktober 2018.

Pelantikan tersebut dilakukan setelah adanya kekosongan ketua kamar pidana selama kurang lebih lima bulan. Kemudian Suhadi yang biasa berbicara di depan awak media di percaya untuk menggantikan posisi Artidjo Alkostar.

Suhadi menyatakan, akan menjalankan tugasnya sesuai peraturan dan ketentuan yang berlaku di lingkungan MA. Sebagai pengganti Artidjo, dia mengaku siap memberikan sepenuh waktunya untuk menyelesaikan perkara pidana yang diterima MA.

“Pak Artidjo pergi masih ada semangat yang lain. Artinya semangat itu akan tertinggal di MA,” ucap Suhadi tidak lama setelah dilantik.

Artidjo yang dikenal tegas memperberat hukuman kepada para koruptor itu pun disebut akan diikuti oleh Suhadi. Dia menilai perkara korupsi menyangkut anggaran belanja negara dan pajak yang dipungut dari uang rakyat. Sehingga akan dapat perhatian lebih daripada yang lain dalam pemeriksaan proses perkaranya.

“Keadilan terhitung pada berat atau ringannya sesuai pertimbangan majelis hakim,” jelas Suhadi.

Suhadi tergolong hakim senior di lingkungan MA. Suhadi mengawali karir di dunia peradilan pada 1 November 1979 sebagai CPNS di Pengadilan Negeri Mataram. Pada 1983, suami dari Dahminar ini diangkat sebagai hakim dan ditempatkan di PN Dompu, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Setelah bertugas selama tujuh tahun di PN Dompu, Suhadi kemudian mendapat promosi ke PN Klungkung, Bali selama lima tahun. Kariernya sebagai hakim terbilang mulus, kemudian pada 1996, Suhadi dipromosikan sebagai Ketua PN Takengon, Aceh selama empat tahun.

Selanjutnya, pada 2000 ia kembali mendapatkan promosi sebagai Ketua PN Sumedang, Jawa Barat. Tak sampai empat tahun, Suhadi kembali dipromosikan sebagai Ketua PN Karawang, Jawa Barat selama periode 2003-2005. Kariernya di lembaga peradilan semakin mulus, Suhadi mendapat promosi sebagai Ketua PN Tangerang pada 2005.

Selama dua tahun memimpin PN Tangerang, kemudian Suhadi dipromosikan sebagai hakim tinggi pada Pengadilan Tinggi DKI Jakarta dan ditugaskan sebagai Panitera Muda Tindak Pidana Khusus. Tiga tahun kemudian, tepatnya 5 April 2010, dia dipercaya sebagai Panitera Mahkamah Agung. Kini Suhadi menduduki posisi juru bicara dan ketua kamar pidana di lingkungan MA.

(rdw/JPC)


Artikel yang berjudul “Pensiun Jadi Hakim, Artidjo Pilih Jadi Pedagang di Kampung Halamannya” ini telah terbit pertama kali di:

Sumber berita

No comments:

Post a Comment