Terjerat Masalah Pinjaman Online/P2P Lending Hingga Data Pribadi Diumbar - Jelajah Nasional

Wednesday, December 12, 2018

Terjerat Masalah Pinjaman Online/P2P Lending Hingga Data Pribadi Diumbar

Jelajah Nasional. Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta merilis 1.330 pengaduan korban pinjaman online atau peer-to-peer lending/P2P financial Technologi (fintech) dari 25 provinsi di Indonesia. Laporan ini setelah LBH Jakarta membuka posko pengaduan mulai 4-25 November 2018.

“Sebagian besar masalah tersebut muncul karena minimnya perlindungan data pribadi bagi pengguna aplikasi pinjaman online,” kata  Jeanny Silvia Sari Sirait, pengacara LBH Jakarta saat konferensi pers, Minggu (9/12/2018).

Hal ini terbukti dengan mudahnya penyelenggara aplikasi pinjaman online mendapatkan foto KTP dan foto diri peminjam. Alih-alih verifikasi data peminjam, foto KTP dan foto diri peminjam kemudian disimpan, disebarkan bahkan disalahgunakan oleh penyelenggara aplikasi pinjaman online.

Selain itu, LBH Jakarta juga mencatat bahwa penyelanggara aplikasi pinjaman online mengakses hampir seluruh data pada gawai peminjam. Hal ini menjadi akar masalah penyebaran data pribadi dan data pada gawai peminjam, tentu saja hal ini merupakan pelanggaran hak atas privasi.

Berdasarkan pengaduan yang diterima oleh LBH Jakarta, 48.48% pengadu menggunakan 1-5 aplikasi pinjaman online, namun ada juga pengadu yang menggunakan hingga 36-40 aplikasi pinjaman online.

Banyaknya aplikasi pinjaman online yang digunakan oleh pengadu disebabkan karena pengadu harus mengajukan pinjaman pada aplikasi lain untuk menutupi bunga, denda atau bahkan provisi pada pinjaman sebelumnya.

Pintu kantor pemberi pinjaman peer-to-peer (P2P) Lendingi Ezubao terlihat di Hangzhou, provinsi Zhejiang, pada 17 Desember 2015. Ezubao, yang dulu merupakan pemberi pinjaman P2P terbesar di Tiongkok, ditemukan menggunakan skema Ponzi . (STR / AFP / Getty Images)

“Hal ini kemudian menyebabkan pengguna aplikasi pinjaman online terjerat “lingkaran setan” penggunaan aplikasi pinjaman online,” ujarnya.

BACA JUGA :  OJK Hentikan 404 Penyelenggara Pinjaman Online Ilegal, Sebagian Besar dari Tiongkok

Selain itu, pada pengaduan yang disampaikan oleh korban aplikasi pinjaman online, LBH Jakarta juga masih menemukan berbagai pelanggaran pidana dalam bentuk pengancaman, fitnah, penipuan bahkan pelecehan seksual.

Ironisnya, sebagian besar peminjam hanya memiliki pinjaman pokok senilai dibawah Rp.2.000.000. Tindak pidana yang mereka alami menjadi “harga” yang sangat mahal yang harus mereka “bayar”.

Hal yang lebih buruk, 25 dari 89 penyelenggara aplikasi pinjaman oline yang dilaporkan kepada LBH Jakarta merupakan penyelenggara aplikasi yang terdaftar di OJK. Hal ini menunjukan bahwa terdaftarnya penyelenggara aplikasi pinjaman online di OJK, tidak menjamin minimnya pelanggaran.

Sementara itu, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) mencatat, praktik bisnis pinjaman online (pinjol) terus merebak, bahkan massif di Indonesia. Walaupun pemerintah berbangga,  ribuan konsumen merana karena menjadi korban pinjol.

YLKI mencatat, manakala pengawasan pemerintah (OJK) masih lemah, konsumen harus mewaspadai jeratan pinjaman online.

Atas dasar ini YLKI mengingatkan :

Jangan tergiur oleh bujuk rayu, iklan/promosi pinjol. Pastikan Anda bertransaksi dengan pinjol karena emergency saja;
Pastikan Anda telah membaca dengan cermat/seksama dan memahami semua ketentuan/peraturan teknis yang dibuat oleh pinjol;
Pastikan Anda bertransaksi dengan pinjol yang sah (terdaftar di OJK). Saat ini terdapat 300-an pinjol beroperasi di Indonesia, tetapi yang berizin hanya 70-an saja;
Pastikan Anda mengetahui cara pembayaran, cara penagihan, besaran denda harian, dan besaran komisi/bunga;
Jangan pernah Anda menunggak dan atau melewati jatuh tempo pembayaran. Kecuali Anda ingin terjerat hutang bunga berbunga yang mencekik leher;
Pilihlah pinjol dengan besaran bunga/komisi dan denda harian yang paling rendah/paling kecil;
Segera laporkan (ke OJK/polisi) jika terjadi dugaan penyadapan/ penyalahgunaan data pribadi secara berlebihan dan atau teror fisik oleh pinjol;

“Waspadalah! Pinjaman online akan menyadap seluruh data pribadi yang ada pada telepon seluler Anda: mulai nomor telepon teman/saudara/atasan, bahkan photo pribadi Anda. Data pribadi inilah yang akan dijadikan alat untuk menekan/menteror Anda, jika Anda menunggak/telat bayar hutang,” pungkas YLKI. (asr)


Artikel yang berjudul “Terjerat Masalah Pinjaman Online/P2P Lending Hingga Data Pribadi Diumbar” ini telah terbit pertama kali di:

Sumber berita

No comments:

Post a Comment