Dari Ngototnya OSO Masuk DCT Sampai Ulang Tahun ‘the Brave Lady’ - Jelajah Nasional

Sunday, January 27, 2019

Dari Ngototnya OSO Masuk DCT Sampai Ulang Tahun ‘the Brave Lady’

Jelajah Nasional – Konflik Oesman Sapta Odang (OSO) dengan penyelenggara pemilu, dalam hal ini Komisi Pemilihan Umum RI (KPU), terus memanas. Perjuangan Ketua Umum Partai Hanura itu agar dimasukkan dalam Daftar Calon Tetap (DCT) anggota DPD RI 2019-2024 menjadi salah satu topik terhangat pekan keempat Januari 2019.

Selain itu, dari panggung pilpres 2019, pelaksanaan debat perdana yang menyisakan banyak evaluasi mulai dibenahi. Salah satunya, yakni soal pemberian kisi-kisi, yang rencananya pada debat selanjutnya tak lagi diberikan kepada kedua pasangan calon. Kemudian, pada pekan ini pula diputuskan moderator untuk debat kedua yang mengusung tema ‘Energi, Pangan, Infrastruktur, Sumber Daya Alam, dan Lingkungan Hidup’.

Sementara itu kabar gembira datang dari Megawati Soekarnoputri. Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) itu, pada tahun ini, memasuki usia ke-72. Terakhir, Indikator Politik merilis survei terbaru terkait soliditas partai-partai politik jelang pemilu 2019.

Berikut beberapa peristiwa penting politik sepekan yang dirangkum Jelajah Nasional, Minggu (27/1).

1. Konflik OSO Vs KPU

KPU menunggu surat pengunduran diri OSO dari jabatannya sebagai ketua umum Partai Hanura, sampai Selasa (22/1) pukul 24.00 WIB, atau Rabu (23/1) pukul 00.00 WIB. Komisioner KPU, Wahyu Setiawan mengatakan, walaupun lewat kuasa hukumnya OSO bersikukuh tidak mau mengundurkan diri, namun pihaknya masih menunggu surat dari OSO.

“Bahwa 22 Januari adalah tenggat waktu terakhir bagi Pak OSO untuk menyerahkan surat pengunduran diri. Kami bersama-sama menunggu sampai pukul 00.00 WIB‎,” ujar Wahyu.

Sementara di luar Gedung KPU, puluhan kader Partai Hanura melakukan aksi dukung OSO masuk DCT anggota DPD RI 2019-2024. Wahyu menegaskan, keputusan KPU mengacu pada putusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang melarang calon anggota DPD RI masuk dalam kepengurusan partai politik.

“Terkait dengan keputusan KPU tentu saja seluruh anggota KPU bertanggung ‎jawab atas keputusannya,” katanya menegaskan keputusan KPU bersifat kolektif kolegial.

Tak kunjung menyerahkan surat pengunduran diri, rupaya OSO masih bersikeras agar namanya bisa masuk dalam DCT anggota DPD RI 2019-2024. OSO meyakini bahwa putusan MK yakni Nomor 30/PUU-XVI/2018 terkait larangan pengurus partai politik rangkap jabatan sebagai anggota DPD baru berlaku pada pemilu 2024.

Maka dari itu, dirinya menegaskan tidak takut dengan ancaman KPU dan tidak akan memenuhi persyaratan dari KPU untuk mundur. “Saya tidak akan mundur. Itu prinsip saya. Saya tidak akan pernah patuh terhadap KPU, jika KPU tidak patuh kepada hukum negara ini. Tapi, begitu KPU patuh hukum, saya akan ikut KPU,” ujar OSO di Jakarta, Selasa (22/1).

Akhirnya dicoret KPU, OSO mengajukan gugatan lagi ke Badan Pengawas Pemilihan Umum RI (Bawaslu). Namun, Bawaslu memutuskan tidak dapat memproses gugatan OSO, lantaran materi yang sama pernah disidangkan.

“Menetapkan, menyatakan laporan yang disampaikan terlapor tidak dapat diterima dan tidak dapat dijalankan dalam sidang pemeriksaan,” ujar Ketua Bawaslu Abhan di Jakarta, Rabu (23/1).

Abhan dalam keputusannya berpendapat, ‎tidak meneruskan laporan gugatan OSO terhadap KPU. Karena sebelumnya yang bersangkutan juga telah mengajukan gugatan yang sama.

Putusannya pun sudah keluar tertanggal 9 Januari 2019 silam, yang isinya memerintahan KPU untuk mencantumkan nama OSO di DCT. “Majelis menilai inti dari yang dilaporkan sama dengan yang telah diberikan putusan oleh Bawaslu pada tanggal 9 Januari 2019,” katanya.

Terpisah, Komisioner Bawaslu Ratna Dewi Pettalolo mengatakan, tidak dimasukannya nama OSO ke DCT ini sudah sampai ke dalam tahap pelaporan ke Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP).

Dari Ngototnya OSO Masuk DCT Sampai Ulang Tahun 'the Brave Lady'Kader Hanura saat berunjuk rasa di depan kantor KPU Pusat, Senin (21/1) (Gunawan Wibisono/Jelajah Nasional)

2. Kisi-kisi Ditiadakan, Moderator Diputuskan

Usai mendapat banyak masukan, KPU akhirnya memutuskan untuk tidak memberikan kisi-kisi kepada kedua pasangan calon pada debat selanjutnya. Keputusan inipun diapresiasi oleh sejumlah pihak.

Juru Bicara Tim Kampanye Nasiona (TKN) Jokowi-Ma’ruf Amin, Ace Hasan Syadzily menyambut baik evaluasi yang dilakukan KPU. Menurutnya, Jokowi-Ma’ruf Amin pun siap menghadapi debat meski tanpa kisi-kisi. Sebab, kata dia, memang yang mengusulkan adanya kisi-kisi bukanlah kubu 01.

“Bagi kami tidak ada masalah. Pak Jokowi dan Kiai Ma’ruf sangat siap dengan format yang tanpa ada kisi-kisi itu. Soal kisi-kisi itu kan yang mengusulkan dalam debat yang pertama kan bukan kami,” katanya.

‎”Kami siap dengan pertanyaan tertutup. Justru kalau melihat debat semalam, kami yang lebih orisinal, tajam dan kuat dalam pertanyaan tertutup,” tambahnya.

Selain tidak memberikan kisi-kisi kepada kedua pasangan calon, KPU juga memperbaiki format debat dan tata panggung, serta mengurangi jumlah tamu undangan. Komisioner KPU Wahyu Setiawan mengatakan, pada debat perdana ada tim pemenangan yang duduk di belakang kedua pasangan capres-cawapres‎. Sementara pada debat kedua ditiadakan.

“Pas debat pertama di belakang kandidat ada orang-orang. Untuk debat kedua nanti tidak ada,” ujar Wahyu di Kantor KPU, Jakarta, Senin (21/1).

Alasan KPU meniadakan rombongan pendukung di belakang pasangan capres-cawapres yakni membuat suasana panggung lebih tertib. Sementara itu, untuk moderator debat, beberapa nama yang beredar akhirnya tersingkir. Misalnya yang paling banyak diperbincangkan yakni Najwa Shihab.

Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon ngotot agar KPU tak memilih Najwa Shihab sebagai moderator debat. Setelah mendengar banyak masukan, KPU dan kedua kubu sepakat memilih Tommy Tjokro dan Anisha Dasuki sebagai moderator debat kedua.

Dari Ngototnya OSO Masuk DCT Sampai Ulang Tahun 'the Brave Lady'Pelaksanaan debat perdana pilpres 2019, pada Kamis (17/1) lalu, banyak mendapat evaluasi. (Dery Ridwansah/Jelajah Nasional)

3. Megawati Ultah ke-72, Buku ‘the Brave Lady’ Diluncurkan

Pada Rabu (23/1) lalu, Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri genap berusia 72 tahun. Ucapan selamat mengalir dari para kader maupun elite partai. Perayaan hari ulang tahun Mega pun menjadi momen nostalgia sejumlah menteri di Kabinet Gotong-Royong.

Nostalgia itu terjadi saat ketua umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) ini menghadiri launching buku ‘The Brave Lady, Megawati dalam Catatan Kabinet Gotong-Royong’. Buku itu digarap oleh tim yang terdiri dari antara lain Rokhmin Dahuri, dan mantan wartawan Kristin Salmah.

Rokhmin Dahuri, selaku editor mengatakan, buku ini merupakan sebuah warisan kebijakan-kebijakan Megawati sebagai The Brave Lady, yang ditulis 21 menteri Kabinet Gotong-Royong. “Apa yang ada di buku ini juga menjadi pelajaran dan mana yang baik diteruskan,” ungkap Rokhmin.

Dalam sambutan ulang tahunnya, Mega bertanya-tanya namun sekaligus mendorong agar perempuan mau berkiprah di dunia politik. “Ingin saya tegaskan kenapa ya perempuan Indonesia tidak mau menjadi seperti saya? Bukan mau sombong. Tapi sampai hari ini saya the only one, the only one president of Indonesia yang perempuan,” ujar Mega.

Megawati mengatakan, sebenarnya dirinya tidak suka disanjung-sanjung sebagai satu-satunya perempuan yang pernah menjadi kepala negara. Justru, dia mendorong kaum perempuan bisa mencontoh keberhasilannya sejauh ini.

“Saya sebetulnya kalau ditepuk-tepukin kayak gini enggak senang. Harusnya banyak kaum perempuan yang meniru,” katanya.

Dari Ngototnya OSO Masuk DCT Sampai Ulang Tahun 'the Brave Lady'Di kubu 02, Demokrat jadi partai yang paling tidak solid, Rabu (23/1). (Miftahul Hayat/Jawa Pos)

4. Pemilu Kian Dekat, Dukungan Malah Terbelah

Pemilu 2019 yang berjalan serentak memaksa partai-partai politik putar otak untuk bisa fokus memenangkan paslon yang diusung, dan kursi di parlemen. Tak heran, beberapa partai tampak bermain dua kaki.

Temuan menarik dirilis Indikator Politik yang menunjukkan beberapa partai politik dalam kategori tidak solid, lantaran dukungan kadernya terbagi ke kubu 01 dan kubu 02.

Di koalisi pendukung Prabowo-Sandi, Demokrat menjadi partai yang paling tak solid. Hanya 54,1 persen basis pemilihnya yang memilih Prabowo-Sandi. Sementara itu, sebanyak 40,5 persen menyatakan memilih Jokowi-Ma’ruf dan 5,4 persen tidak menjawab.

Menyusul Demokrat, ada Partai Berkarya yang juga masuk kategori tak solid. Hanya 44,8 persen basis pemilih Berkarya yang memilih Prabowo-Sandi. Sedangkan sebesar 42,1 persennya memilih Jokowi-Ma’ruf, dan 13,1 persen tidak menjawab.

“Pada basis koalisi Prabowo-Sandi, terutama demokrat dan Berkarya paling besar terbelah ke petahana,” kata peneliti senior Indikator Politik, Rizka Halida, Rabu (23/1).

Sedangkan di koalisi pendukung Jokowi-Ma’ruf Amin, ada tiga partai yang paling tidak solid yakni PPP, Hanura, dan Golkar. Basis pemilih PPP yang mendukung Jokowi-Ma’ruf hanya 53,7 persen. Sedangkan sebesar 43,2 persennya mendukung Prabowo-Sandi dan 3,1 persen tidak menjawab.

Kemudian, sebesar 59,1 persen basis pemilih Hanura memilih Jokowi-Ma’ruf. Namun, sebanyak 39,6 persennya memilih Prabowo-Sandi dan 1,3 persen tidak menjawab. Sementara itu, pada basis pemilih Golkar, sebesar 62,1 persen mendukung petahana, 31,2 persen mendukung penantang, dan 6,7 persen tidak menjawab.

“Pada kelompok partai koalisi Jokowi-Ma’ruf, basis pemilih PPP dan Hanura paling banyak terbelah kepada oposisi,” katanya.

Editor           : Estu Suryowati


Artikel yang berjudul “Dari Ngototnya OSO Masuk DCT Sampai Ulang Tahun ‘the Brave Lady'” ini telah terbit pertama kali di:

Sumber berita

No comments:

Post a Comment