Deklarasi Muslimat NU: No Hoaks, No Fitnah, No Gibah…! - Jelajah Nasional

Sunday, January 27, 2019

Deklarasi Muslimat NU: No Hoaks, No Fitnah, No Gibah…!

Jelajah Nasional – Hoaks menjadi isu utama yang diangkat dalam peringatan Hari Lahir (Harlah) Ke-73 Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Jakarta, kemarin (27/1). Kader-kader Muslimat NU sama-sama berkomitmen untuk tidak ikut menyebarkan hoaks.

Hujan di kawasan Senayan sejak dini hari kemarin tidak menyurutkan semangat kader-kader Muslimat. Ribuan perempuan berseragam hijau itu tetap kukuh melaksanakan hajatnya di SUGBK. Mereka berkumpul untuk memperingati 73 tahun usia organisasi Muslimat NU.

Sejak Sabtu (26/1) jamaah dari berbagai daerah sudah tiba di kompleks SUGBK. Siti Robikah salah satunya. Perempuan asal Blitar itu tiba di Jakarta pada Sabtu pukul 22.00. Tidak kurang dari 400 anggota Muslimat asal Kabupaten Blitar berangkat ke Jakarta dengan naik tujuh bus. “Kalau keberangkatan diumumkan terbuka, bisa-bisa semua jamaah ikut,” ucapnya.

Ketua Umum PP Muslimat NU Khofifah Indar Parawangsa menyampaikan pidatonya pada Harlah ke-73 Muslimat NU. (Dery Ridwansah/Jelajah Nasional)

Pukul 23.30, pintu SUGBK dibuka. Robikah dan ribuan kader Muslimat masuk dan menyemut di tengah stadion. Para anggota Banser bersiaga, mengarahkan dan merapikan antrean memasuki stadion. Pukul 02.30 Minggu, rangkaian acara dimulai. Salat Tahajud 12 rakaat, salat Hajat 8 rakaat, disambung dengan salat Witir. Itu rencananya. Namun, alam berkehendak lain.

Baru enam rakaat Tahajud selesai, hujan mulai turun. Sebagian jamaah urung melanjutkan salat dan mengungsi ke tribun. Robikah bertahan. Namun, dia hanya menambah dua rakaat. Sebab, setelah itu air dari langit turun dengan derasnya. Robikah tak melanjutkan salatnya. Tikar alas untuk salat dia jadikan payung agar seragam hijaunya tak kuyup.

Namun, tidak sedikit jamaah yang memilih bertahan di tengah hujan. Sisanya menyebar ke seantero tribun. Dalam sekejap, tribun yang tadinya belum terisi langsung penuh. Gelombang jamaah terus berdatangan sampai pagi, bahkan hingga acara utama dimulai pukul 07.00.

Rangkaian kegiatan bukan hanya salat bersama. Para ibu bertahan dan tetap terjaga sepanjang malam. Seusai salat Subuh berjamaah, para ibu itu serentak membaca Alquran. Dengan tajuk 1.000 khataman Alquran, setiap jamaah membaca bagian masing-masing sehingga bisa khatam lebih cepat. Dilanjutkan dengan pemecahan rekor 999 tarian sufi.

Hoaks menjadi salah satu fokus utama dalam peringatan bertajuk “Khidmah Muslimat NU, Jaga Aswaja, Teguhkan Bangsa” itu. Ribuan kader Muslimat mendeklarasikan penolakan terhadap hoaks, ujaran kebencian, fitnah, dan gibah. “Hoaks, no. Fitnah, no. Gibah, no,” seru Ketua Umum PP Muslimat NU Khofifah Indar Parawansa.

Mantan menteri sosial tersebut meminta seruan itu diikuti dan diimplementasikan seluruh kader Muslimat hingga level anak ranting. Muslimat akan menjadi bagian yang mengajak seluruh elemen bangsa membangun pikiran positif dan konstruktif. Hal itu, menurut Khofifah, syarat mutlak untuk menjadi bangsa yang besar dan maju.

Khofifah menjelaskan, Muslimat NU memiliki lebih dari 59.600 majelis taklim. Hampir setiap hari selalu ada kajian keagamaan. “Ada ustadah, mubaligah, pendakwah, itu yang akan menyampaikan (pesan antihoaks, Red),” lanjut gubernur terpilih Jatim itu. “Rasulullah mengajak kita agar jangan gibah, jangan bergunjing,” tuturnya.

Teks-teks dalam Alquran dan hadis cukup kuat dalam memberikan penjelasan. Keterangannya akan dipadukan dengan referensi dari UU ITE. Khususnya mengenai hoaks dan ujaran kebencian. Targetnya, minimal lingkungan keluarga jamaah Muslimat bisa dibentengi dari hoaks dan ujaran kebencian.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) kemarin tiba di stadion menjelang pukul 07.00. Mengenakan setelan jas dan sarung, dia hadir bersama Ibu Negara Iriana Jokowi dan sejumlah menteri. Antara lain Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti, Menko Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan, serta Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi. Ada pula Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi serta tentu saja Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin.

Dalam kesempatan tersebut, Presiden Jokowi kembali mengingatkan akan potensi perpecahan dalam tahun politik. Selama ini, ungkap dia, sudah ada bukti bahwa sesama tetangga tidak saling sapa gara-gara berbeda pilihan di pilkada. “Di dalam majelis taklim yang sama tidak saling omong gara-gara pilihan presiden. Bener nggak?” tanya Jokowi.

Karena itu, presiden meminta para kader Muslimat mampu mengendalikan diri. Dengan tidak mencela, menghina, termasuk tidak ikut menebar hoaks hanya karena perbedaan pilihan politik. “Sudah menjadi sunatullah bahwa kita berbeda-beda,” lanjut mantan gubernur DKI Jakarta itu. Maka, kuncinya adalah menjaga ukhuwah. Baik ukhuwah Islamiyah maupun ukhuwah wathaniyah.

Presiden mengapresiasi deklarasi antihoaks yang dilaksanakan Muslimat NU. “Kalau semua elemen, ormas, seluruh kelompok di tanah air menyatakan antihoaks, ini menjadi sebuah perlawanan atas banyaknya hoaks di media sosial. Itu adalah gerakan yang bagus,” tuturnya.

Di sisi lain, acara tersebut juga dihadiri Ketua Umum PB NU KH Said Aqil Siroj. Yang menarik, dalam acara itu dia memastikan tidak akan mencalonkan diri lagi sebagai ketua umum tanfidziyah di muktamar PB NU tahun depan. Periode kedua ini sekaligus menjadi periode terakhirnya. “Silakan yang lainnya maju,” ujar Said Aqil disambut gemuruh tepuk tangan warga Muslimat.

Sementara itu, Ketua Panitia Harlah Ke-73 Muslimat NU Zannuba Ariffah Chafsoh Rahman Wahid (Yenny Wahid) mengapresiasi militansi kader-kader Muslimat. Di usia yang sudah tak lagi muda, mereka masih rela melakukan perjalanan jauh untuk doa bersama di harlah Muslimat. “Semua hadir dengan keikhlasan tinggi, membawa bekal dan gembolan masing-masing,” ujarnya.

Tiap-tiap provinsi membawa ribuan hingga puluhan ribu jamaah. Dari Lampung, misalnya, ada 7.000 orang. Kemudian, Jawa Tengah dan Jawa Timur masing-masing mengirim 20 ribuan orang. Sedangkan Jawa Barat mengerahkan 50 ribu orang. Belum lagi provinsi lainnya, termasuk Papua dan Papua Barat.

Yenny menambahkan, deklarasi antihoaks bukan sekadar deklarasi. Kegiatan itu membawa pesan dari mayoritas umat Islam di Indonesia. “Ini menunjukkan bahwa sebagian besar umat Islam Indonesia adalah orang-orang yang cinta damai, toleran, dan moderat,” ucap putri almarhum Gus Dur tersebut.

Karena itu, bila ada yang mencoba mengatasnamakan umat Islam Indonesia, tapi mengajarkan radikalisme dan pesan kebencian, akan ada perlawanan. “Yang selama ini dikatakan sebagai silent majority, pada hari ini tidak diam lagi dan menjadi noisy majority,” tegasnya kemarin.

Kegiatan berlangsung lancar hingga pukul 09.15. Rais Am PB NU KH Miftachul Akhyar menutup rangkaian peringatan harlah Muslimat NU dengan doa kebangsaan. Kemudian giliran para santri yang sibuk membersihkan sampah yang dihasilkan dari kegiatan tersebut.


Artikel yang berjudul “Deklarasi Muslimat NU: No Hoaks, No Fitnah, No Gibah…!” ini telah terbit pertama kali di:

Sumber berita

No comments:

Post a Comment