Tingginya Kasus DBD di Jatim, Pasien Dirawat di Lorong Rumah Sakit - Jelajah Nasional

Thursday, January 31, 2019

Tingginya Kasus DBD di Jatim, Pasien Dirawat di Lorong Rumah Sakit

Jelajah Nasional – Wajar saja, Kabupaten Kediri menjadi daerah dengan kasus demam berdarah dengue (DBD) tertinggi se-Jatim. Kemarin terungkap bahwa program pemberantasan sarang nyamuk (PSN) di daerah tersebut tidak berjalan optimal. Bahkan, berdasar hasil supervisi dinas kesehatan setempat, hampir semua rumah yang diteliti memiliki banyak jentik nyamuk.

“Keheranan kami terjawab atas tingginya kasus DBD di Kabupaten Kediri. Hasil supervisi PSN ternyata sangat memprihatinkan,” aku Kepala Dinkes Adi Laksono kepada Jawa Pos Radar Kediri kemarin. Supervisi dilakukan di 37 desa yang tersebar di 26 kecamatan. Dari supervisi itu diperoleh data bahwa angka bebas jentik (ABJ) hanya 42,78 persen. Padahal, ABJ disebut baik jika nilai minimalnya 95 persen.

“Misal, ada 50 rumah yang dicek penampungan airnya. Hanya dua sampai tiga rumah yang ada jentiknya,” katanya mencontohkan ABJ kategori baik. Berdasar hasil supervisi, hampir separo rumah yang dicek memiliki jentik nyamuk.

Sekolah dan masjid juga tak luput dari supervisi tersebut. Pasalnya, tak sedikit yang terjangkit DBD saat berada di sekolah. Karena itu, perlu tindak lanjut lintas sektor untuk mengatasi hal itu.

Fakta tersebut membuat Pemkab Kediri menggelar rapat lintas sektor pada Rabu lalu (30/1). Rapat itu dipimpin Sekda Dede Sujana. Hasilnya, semua camat diperintah menggerakkan semua Kades dan perangkatnya untuk menggelar PSN. “Didukung oleh kepala puskesmas dan tenaga kesehatan untuk melakukan PSN yang berkualitas. Rencananya, dilaksanakan serentak hari ini dan besok. Minimal empat kali dalam Februari,” terang Adi.

PSN tersebut akan dipantau oleh Sekda. Monitoring melibatkan pihak dinkes. Hingga Senin (28/1), 293 kasus DBD terjadi di Kabupaten Kediri. Sebanyak 12 di antaranya berujung pada kematian. Meski demikian, belum ada penetapan status kejadian luar biasa (KLB).

Tulungagung Belum KLB
Tingginya Kasus DBD di Jatim, Pasien Dirawat di Lorong Rumah SakitMeski tingginya angka kasus DBD di Tulunggagung, namun pemda setempat belum menetapkan status KLB DBD. (R Bagus Rahadi/Jawa Pos Radar Madiun)

DBD juga menyerang Tulungagung. Berdasar data Dinkes Tulungagung, sepanjang Januari 2019 tercatat 250 kasus DBD. Tiga di antaranya berakhir dengan pasien meninggal dunia. Jumlah itu lebih tinggi jika dibandingkan dengan tahun lalu pada periode yang sama. “Meski tergolong tinggi, belum dinyatakan sebagai KLB,” ungkap Kasi Pengendalian Penyakit Menular Dinkes Tulungagung Didik Eka kepada Jawa Pos Radar Tulungagung kemarin (31/1).

Meski demikian, ABJ di Tulungagung masih mending daripada Kabupaten Kediri. ABJ di Tulungagung sebesar 88 persen. “Lokasi temuan jentik-jentik nyamuk masih sama dari tahun ke tahun. Untuk itu, lokasi yang di-fogging juga sama,” ujarnya.

Untuk menekan angka DBD, dinkes gencar melakukan pengasapan (fogging) di sejumlah titik yang menjadi tempat jentik nyamuk.

Tidak hanya itu. Masyarakat diminta melakukan PSN dengan gerakan 3M plus di rumah dan lingkungan masing-masing. Setidaknya seminggu sekali dilakukan pemeriksaan dan pembuangan genangan air di setiap tempat yang rawan dijadikan sarang nyamuk. Membuang barang-barang yang sudah tidak terpakai agar tidak dijadikan sarang nyamuk. Lalu, menutup wadah atau tempat-tempat penampungan air agar nyamuk tidak bisa masuk dan bertelur. Juga menghindari gigitan nyamuk dengan menggunakan losion antinyamuk dan memasang kasa pada ventilasi.

“Menanam tanaman yang tidak disukai nyamuk dan memelihara ikan pemakan jentik juga bisa menjadi upaya preventif,” paparnya. Kasi Informasi dan Pemasaran RSUD dr Iskak Moch. Rifai, Tulungagung, mengungkapkan bahwa hingga Selasa (29/1) terdapat 109 pasien DBD. Jumlah tersebut didominasi pasien anak, yakni 85 orang. Mulai usia 0 hingga 12 tahun. “Kini kami merawat 14 pasien DBD. Tiga di antaranya pasien dewasa, sisanya anak-anak,” ujarnya.

Di Bojonegoro, Pasien Dirawat di Lorong RS
Tingginya Kasus DBD di Jatim, Pasien Dirawat di Lorong Rumah SakitLedakan pasien DBD membuat RS di Bojonegoro terpaksa menangani pasien di lorong rumah sakit sembari mendapatkan kamar kosong. (R Bagus Rahadi/Jawa Pos Radar Madiun)

Belasan pasien DBD tak kebagian kamar di RSUD dr Sosodoro Djatikoesoemo. Pasien yang mayoritas anak-anak itu terpaksa menempati lorong RS. Meski demikian, mereka tetap mendapatkan perawatan medis sambil menanti kamar kosong. Kemarin siang (31/1) ada 14 pasien DBD yang menempati lorong di lantai 2.

Humas RSUD Thomas mengatakan, pasien DBD yang baru datang tidak mungkin ditolak meski kamar penuh. Berdasar data RSUD selama Januari, pasien DB mencapai 86 orang. Sejak 16-31 Januari, ada 54 pasien dan 1 orang meninggal dunia.

Dia mengatakan, pasien anak-anak yang dirawat berumur 28 hari hingga 16 tahun. Pasien yang dirawat di lorong tersebut harus menunggu pasien lama selesai opname. “Jadi, sementara kita rawat di lorong. Kalau pasien lama, tidak ada yang DB. Jadi, di sini tidak ada ruang khusus pasien DB,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Bojonegoro.

Setiap Hari Dua Warga Malang Raya Terserang DBD
Tingginya Kasus DBD di Jatim, Pasien Dirawat di Lorong Rumah SakitTenaga medis di salah satu RS melihat kondisi pasien DBD di Malang. (Rubianto/Jawa Pos Radar Malang)

Jawa Pos Radar Malang melaporkan, 681 warga Kabupaten Malang terserang DBD. Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kesehatan (Plt Kadinkes) Kabupaten Malang dr Ratih Maharani mengakui meningkatnya jumlah penderita DBD. ”Ada peningkatan dari 2017 lalu. Tapi, kami telah menginstruksikan kepada seluruh petugas kesehatan untuk melakukan berbagai antisipasi,” ucap Ratih.

Upaya dinkes untuk menekan jumlah penderita DBD adalah getol melakukan pengasapan (fogging) di rumah-rumah warga. Selain itu, memberikan abate kepada masyarakat. Ada juga program Jumat Bersih yang rutin digelar Pemkab Malang.

Lantas, bagaimana dengan serangan DBD di Kota Malang? Sejak Januari 2019, 45 warga Kota Malang menderita DBD. Jika dibandingkan dengan periode yang sama pada 2018, tampaknya terjadi peningkatan. Sebab, Januari 2018 hanya ada 9 kasus. Kadinkes Kota Malang dr Asih Tri Rachmi Nuswantari menjelaskan, peningkatan jumlah penderita DBD pada awal 2019 disebabkan faktor cuaca. ”Kalau sudah memasuki musim hujan, bisa muncul siklus lima tahunan nyamuk,” katanya.

Disebut siklus lima tahunan apabila angka pasien DBD meningkat hingga mendekati periode lima tahunan. Meningkatnya siklus itu mau tak mau akan mengerek angka jumlah penderita DBD. Apalagi, cuaca dan kelembapan udara memengaruhi perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti.

Kemenkes: Total Pasien DBD 15.132 Orang
Tingginya Kasus DBD di Jatim, Pasien Dirawat di Lorong Rumah SakitPasien DBD yang ditangani di RSUD Pasar Rebo, Jakarta. (Dery Ridwansah/Jelajah Nasional)

Menurut data Kementerian Kesehatan (Kemenkes), hingga pukul 15.30 kemarin (31/1) ada 15.132 orang yang terserang DBD. Jawa Timur masih menjadi provinsi dengan jumlah penderita terbanyak. Salah satu kabupatennya, Ponorogo, telah menyatakan kejadian luar biasa (KLB).

Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat Kemenkes Widyawati mengatakan bahwa jumlah penderita DBD yang meninggal mencapai 145 orang. Sementara itu, tiga provinsi tertinggi yang memiliki penderita terbanyak adalah Jatim, Jabar, dan NTT. ”Daerah yang menyatakan KLB ada Kota Kupang, Kabupaten Manggarai Barat, Kabupaten Ponorogo, dan Provinsi Sulawesi Utara,” ujarnya. Menurut Jawa Pos Radar Ponorogo, Bupati Ponorogo Ipong Muchlissoni menyatakan status KLB pada 28 Januari. Saat itu diadakan rapat di kantor bupati yang diikuti 21 camat dan kepala puskesmas dari seluruh kecamatan. Data yang dihimpun Jawa Pos Radar Ponorogo, 457 warga terjangkit DBD sepanjang Januari ini.

Widyawati menambahkan, di Jatim sudah 37 kabupaten/kota yang melaporkan data DBD. Secara nasional, jumlah daerah yang melapor sebanyak 390 kabupaten/kota. Dia menjelaskan, penderita DBD berusia 5-14 tahun merupakan golongan terbanyak. Angkanya bisa mencapai 41,25 persen. ”Kasus kematian juga banyak terjadi di usia tersebut. Jumlahnya 57,9 persen,” ucapnya.

Secara nasional, Kemenkes tidak menyatakan terjadinya wabah DBD. KLB di beberapa wilayah merupakan kebijakan pemerintah daerah. Karena itu, pemerintah daerah juga yang nanti mencabut status KLB tersebut.

”Pernyataan KLB biasanya melihat pada angka tertinggi di tahun-tahun sebelumnya,” ujarnya. Kemenkes juga telah menginstruksi rumah sakit agar siap menghadapi lonjakan pasien DBD. Selain itu, PMI telah dikoordinasikan agar tidak ada kekurangan darah di suatu wilayah.

Sementara itu, Direktur Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonosis Kemenkes Siti Nadia Tarmizi mengungkapkan bahwa demam berdarah disebabkan dua nyamuk, Aedes aegypti dan Aedes albopictus. ”Berwarna hitam dan belang-belang putih pada seluruh tubuhnya,” ucapnya. Yang mengisap darah manusia adalah nyamuk betina.

Virusnya terdiri atas empat jenis. Yakni, serotype D1, D2, D3, dan D4. Virus dengue berkembang biak dengan cara membelah diri. ”Virus dengue berpindah bersama air liur nyamuk saat menggigit manusia,” ujarnya. Indonesia pernah mengalami KLB pada 2016. Waktu itu, jumlah penderitanya mencapai 204.171 orang dan pasien meninggal 1.598 orang. 

Editor           : Ilham Safutra

Reporter      : (lyn/c6/c19/oni)


Artikel yang berjudul “Tingginya Kasus DBD di Jatim, Pasien Dirawat di Lorong Rumah Sakit” ini telah terbit pertama kali di:

Sumber berita

No comments:

Post a Comment