Dianggap Bikin Gaduh, Tim Hore Capres Bakal Dikurangi atau Dihapus - Jelajah Nasional

Monday, February 18, 2019

Dianggap Bikin Gaduh, Tim Hore Capres Bakal Dikurangi atau Dihapus

Jelajah Nasional – KPU dan Bawaslu sama-sama mengevaluasi pelaksanaan debat kedua calon presiden (capres) Minggu malam (17/2). Dua lembaga itu sepakat bahwa tim hore atau pendukung capres terlalu gaduh hingga mengganggu jalannya debat. Dua opsi kini disiapkan, yakni mengurangi atau bahkan menghapus jumlah pendukung capres yang hadir di lokasi debat.

Komisioner KPU Viryan Azis menjelaskan, pihaknya mendapat banyak masukan mengenai pendukung capres yang hadir di debat kedua. Jumlah pendukung yang mencapai 280 orang (masing-masing 140) dianggap terlalu banyak. Kemudian, terdapat sorak-sorai serta sejumlah pendukung yang tidak tertib. “Sehingga mengganggu konsentrasi calon,” ujarnya saat ditemui di KPU kemarin (18/2).

Karena itu, KPU memutuskan akan mengkaji ulang kehadiran pendukung kedua kandidat di arena debat. “Pilihannya ada dua, dikurangi atau tidak ada (pendukung) sama sekali,” lanjut mantan komisioner KPU Kalimantan Barat tersebut.

Dianggap Bikin Gaduh, Tim Hore Capres Bakal Dikurangi atau DihapusPenampilan dua capres pada debat kedua di Hotel Sultan, Jakarta, Minggu malam (17/2). (Issak Ramdhani/Jelajah Nasional)

Viryan menjelaskan, KPU ingin menghadirkan suasana debat yang kondusif. Dengan begitu, kedua kandidat bisa berkonsentrasi menyampaikan visi dan misi. Setiap detik dalam debat adalah momen berharga. Pihaknya tidak ingin kegaduhan itu berulang di debat ketiga.

Menurut Viryan, opsi menghilangkan pendukung muncul lantaran kehadiran mereka dalam debat sebenarnya tidak wajib. “Kan bisa nobar (nonton bareng). Itu siaran langsung,” ucapnya.

Viryan menyayangkan ulah para pendukung yang tidak tertib. Dia bisa memahami bahwa terjadi euforia dan para pendukung berusaha menunjukkan rasa bangganya atas jawaban jagoan masing-masing.

“Tapi, semestinya mereka sadar itu justru mengganggu calon mereka (juga pemirsa televisi, Red),” tambahnya.

Pantauan Jawa Pos di lokasi debat di Hotel Sultan, Jakarta, Minggu (17/2), sorakan pendukung beberapa kali terdengar saat kandidat berbicara. Kedua moderator Tommy Tjokro dan Anisha Dasuki sampai harus berkali-kali menegur penonton yang tidak tertib itu. Jawa Pos yang berada di dalam ballroom menyaksikan sendiri betapa kedua kubu saling beradu yel-yel dan bersorak ketika capres selesai berbicara.

Sementara itu, Bawaslu menyatakan masih membikin kajian atas debat capres tersebut. Anggota Bawaslu Fritz Edward Siregar mengaku tidak bisa berkomentar banyak mengenai jalannya debat. Soal kabar ketidakpuasan salah seorang pendukung capres, Fritz menyarankan segera membuat laporan. “Kami persilakan pihak-pihak yang merasa ada dugaan pelanggaran terhadap debat tadi malam (Minggu malam, Red),” katanya.

Fritz juga mengapresiasi pihak KPU yang mengakomodasi masukan-masukan Bawaslu. Meski demikian, masih ada beberapa poin penting yang perlu dikaji KPU. Fritz menjelaskan, jumlah pendukung yang hadir dan menonton di dalam ruangan terlalu banyak. Tak heran jika beberapa di antara mereka masih menimbulkan suara yang meng­ganggu debat.

Interaksi antara moderator dan penonton untuk menghidupkan suasana debat juga dinilai kurang. “Bawaslu akan berikan rekom ke tim kampanye untuk dapat mengontrol tim pendukungnya,” tegas Fritz.

Sementara itu, Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma’ruf Amin tidak sepakat dengan rencana KPU mengurangi atau bahkan menghilangkan penonton debat. Abdul Kadir Karding, wakil ketua TKN, mengatakan, gagasan KPU tersebut tidak tepat. Menurut dia, debat harus meriah. “Kalau sunyi senyap ya tidak menarik,” tuturnya saat ditemui di Media Center TKN Jokowi-Ma’ruf, Jalan Cemara, Menteng, Jakarta Pusat, kemarin.

Menurut Karding, debat harus ramai (meriah), tapi tentu mesti diatur dengan baik agar tertib. KPU harus cermat mengatur kapan penonton boleh mengeluarkan suara, kapan harus diam. Memang KPU sudah mengatur, tapi perlu diatur lebih bagus lagi sehingga berjalan dengan lebih baik.

Yang penting, lanjut Karding, kedua pihak tidak berlebihan. Ketua DPP PKB itu mengatakan, KPU bisa mengecek konten yel-yel dan lagu yang dinyanyikan. Tak boleh sampai ada yang bernada menghina dan mengandung ujaran permusuhan.

Yel-yel lumrah dilakukan untuk menyemarakkan suasana. Jadi, tidak perlu melarang pendukung untuk meneriakkan dukungan kepada kandidat. “Yang penting disampaikan dengan baik. Tidak menghina dan menyudutkan pihak lain,” tutur anggota DPR itu. Karding malah mengusulkan agar jumlah tim hore tersebut ditambah. Tim hore tetap dibutuhkan sebagai penyemangat.

Di tempat terpisah, calon wakil presiden 02 Sandiaga Uno menilai debat kedua berjalan lebih seru daripada debat perdana. Namun, tetap perlu ada evaluasi. Sandi menilai durasi debat antarsegmen terlalu singkat. “Yang harus kita pastikan bahwa sesi debat harus terisi semuanya, menarik,” katanya.

Sandi -sapaan Sandiaga Uno- juga sepakat dengan evaluasi KPU terkait penonton debat. Menurut dia, penonton di debat kedua terlalu berisik. Terbukti, beberapa kali moderator memberikan teguran kepada penonton yang gaduh.

“Debat ini untuk membantu mereka menentukan pilihan, bukan untuk sorak-menyorak dan sampai terdengar pemirsa di rumah. Bunyi priwitan, bunyi kayak tepukan balon, menurut saya itu kontraproduktif,” tegasnya.

Sandi juga mengusulkan agar tidak ada lagi sesi pertanyaan dari panelis. Menurut dia, pertanyaan dari panelis cenderung membuat bingung atau susah dipahami masyarakat. Hal itu diketahuinya saat nobar bersama sejumlah elemen masyarakat di Cibinong, Bogor, Jawa Barat.

“Untuk debat selanjutnya, terutama debat ketiga antarcawapres, tidak usah diberikan pertanyaan. Sampaikan saja apa yang menjadi program visi kita dan saling bertanya untuk tiap-tiap topik.” 

Editor           : Ilham Safutra

Reporter      : (byu/bin/lum/bay/far/c9/oni)


Artikel yang berjudul “Dianggap Bikin Gaduh, Tim Hore Capres Bakal Dikurangi atau Dihapus” ini telah terbit pertama kali di:

Sumber berita

No comments:

Post a Comment