Kasus DBD Diprediksi Terus Naik, Pasien Dijamin Masuk Ruang Perawatan - Jelajah Nasional

Friday, February 1, 2019

Kasus DBD Diprediksi Terus Naik, Pasien Dijamin Masuk Ruang Perawatan

Jelajah Nasional – Dalam beberapa hari ini, demam berdarah dengue (DBD) masih menjadi ancaman. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memprediksi pada bulan ini terjadi peningkatan kasus DBD. Meski demikian, jumlah tempat tidur rumah sakit (RS) dianggap cukup untuk mengatasi lonjakan pasien.

Menurut data Kemenkes hingga kemarin (1/2) pukul 18.30, ada 15.305 pasien DBD. Sebanyak 149 orang di antaranya meninggal dunia. Jawa Timur merupakan provinsi yang angka penderitanya tertinggi. Mencapai 3.074 orang dengan jumlah pasien meninggal 62 jiwa.

“Sekarang 34 provinsi sudah melaporkan kasus DBD,” ungkap Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kemenkes Anung Sugihantono. Jumlah kabupaten/kota yang melapor pun meningkat menjadi 395 kabupaten/kota. Sebelumnya, hanya ada 390 kabupaten/kota.

Kasus DBD Diprediksi Terus Naik, Pasien Dijamin Masuk Ruang PerawatanPetugas medis menangani pasien DBD di salah satu RS di Malang. (Rubianto/Jawa Pos Radar Malang)

Melihat tren saat ini, Anung memprediksi jumlah penderita DBD pada bulan ini lebih tinggi daripada Februari tahun lalu. Tahun lalu jumlah penderita DBD pada Februari mencapai 5.002 orang. Rekapitulasi penderita DBD Januari tahun ini juga lebih tinggi daripada tahun lalu. Pada tahun ini, ada 6.089 pasien. “Social determinant-nya belum berubah, sepertinya masih akan naik,” ungkapnya.

Tahun ini penderita DBD didominasi anak berusia 5 tahun hingga 14 tahun. Dari seluruh penderita, 41,25 persen berusia 5-14 tahun. Begitu juga angka kematian. Dari 149 pasien DBD yang meninggal, 57,89 persennya berada dalam rentang usia tersebut.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik Siti Nadia Tarmizi mengatakan, anak usia tersebut lebih banyak beraktivitas di sekolah. “Di rumahnya mungkin sudah tidak ada sarang nyamuk, namun di sekolah tidak tahu. Untuk itu, harus ada satu juru pemantau jentik di sekolah atau di setiap gedung,” ujarnya.

Peningkatan jumlah penderita DBD juga dibarengi dengan kenaikan pasien rawat inap di rumah sakit. Meski demikian, secara nasional, kondisinya masih terkendali. Nadia menegaskan, RS masih mampu mengatasi kenaikan jumlah pasien. “Kalau ketersediaan tempat tidur secara nasional, kami belum meminta bantuan BPBD ataupun TNI karena daerah masih bisa mengatasi masalah tersebut,” ungkapnya.

Bahkan, pada 2016 saat jumlah penderita DBD mencapai 204.171 jiwa, tempat tidur RS masih mampu menampung. Menurut data Kemenkes, tempat tidur yang tersedia di RS se-Indonesia berjumlah 271.902 unit. Sementara itu, jumlah RS mencapai 2.198 unit.

Untuk stok darah, Palang Merah Indonesia (PMI) menjamin masih tersedia. Ketua Bidang Donor Darah PMI Linda Lukitari Waseso mengungkapkan, tidak semua daerah mengalami lonjakan permintaan darah. Hanya daerah yang jumlah penderita DBD-nya banyak yang mengalami lonjakan permintaan darah. Dia mencontohkan DKI. “Saat ini (kemarin, Red) di DKI ada kenaikan 20-30 persen permintaan komponen darah, terutama trombosit. Sedangkan stok saat ini masih aman,” bebernya.

Sementara itu, Dirut RSUD Kalideres, Jakarta Barat, Fifi Mulyani mengungkapkan bahwa gejala demam mendadak itu perlu langsung dicurigai ketika musim hujan datang. Hal pertama yang harus dilakukan ialah memeriksakan diri ke puskesmas terdekat. “Karena dikhawatirkan DBD,” katanya.

Nah, untuk mengantisipasi hal tersebut, dia memberikan saran agar penderita memperhatikan asupan cairan yang masuk ke tubuh. Menurut dia, demam karena serangan virus ini bisa diminimalkan dengan memberikan cairan yang cukup pada tubuh. “Minimal demamnya gak rawat inap atau tidak jadi DBD.”

Pada bagian lain, guru besar molekuler Unair C.A. Nidom mengatakan, WHO telah menggolongkan sepuluh masalah kesehatan di dunia yang terbagi menjadi penyakit nongeneratif (penyakit jantung, diabetes, dll) dan infeksi. Masalah penyakit infeksi yang perlu diwaspadai pada tahun ini adalah DBD.

Menurut Nidom, kejadian DBD yang terus berulang bukan semata-mata karena virus dengue. Melainkan juga disebabkan kualitas manusianya. “Tidak benar kalau kita hanya terus-terusan menyalahkan tersebarnya virus saja,” katanya.

Dia melanjutkan, inang atau makhluk hidup yang menampung virus, dalam hal ini manusia, juga bisa menjadi pemicu masalah DBD terus muncul. Khusus Indonesia, lanjut dia, harus lebih waspada terhadap interaksi antara inang dan virus. Inang DBD yang kebanyakan merupakan anak-anak semakin diperparah dengan banyak yang mengalami stunting. “Jumlah stunting di Indonesia cukup mengkhawatirkan, di situlah letak dinamika DB,” ucapnya. 

Editor           : Ilham Safutra

Reporter      : (lyn/fid/nk/ram/abi/mia/ika/c6/c10/agm)


Artikel yang berjudul “Kasus DBD Diprediksi Terus Naik, Pasien Dijamin Masuk Ruang Perawatan” ini telah terbit pertama kali di:

Sumber berita

No comments:

Post a Comment