Keluarga Mbah Moen Kecam Fadli Zon dan Puisinya - Jelajah Nasional

Sunday, February 10, 2019

Keluarga Mbah Moen Kecam Fadli Zon dan Puisinya

Putra KH Maimoen Zubair atau Mbah Moeh, Taj Yasin Maimoen berpendapat bahwa Fadli Zon sudah menurunkan derajat kiai.

Menurut Taj Yasin Maimoen, KH Maimoen Zubair tak bisa didikte.

Maka dari itu, dengan kata ‘kau’ di puisi Doa yang Ditukar Taj Yasin Maimoen menganggap bahwa Fadli Zon telah menurunkan derajat KH Maimoen Zubair

Puisi Fadli Zon berjudul Doa yang Ditukar dianggap telah menyinggung KH Maimoen Zubair.

Kata ‘Kau’ dalam puisi Doa yang Ditukar, terutama dalam kalimat ‘kau tukar’ dan ‘direvisi sang bandar’ menjadi fokus utama dari anak KH Maimoen Zubair, Taj Yasin Maimoen.

“saya sudah membaca beberapa kali yang diberatkan kalimat kau, kau itu siapa ?” kata Taj Yasin Maimeon dikutip dari wawancara di Kompas TV.

Menurut Taj Yasin Maimoen, kata Kau dalam puisi Doa yang Ditukar memang bisa dibalikkan pada orang lain karena tidak menyebut nama.

Namun Taj Yasin Maimoen tetap menyayangkan Fadli Zon membuat puisi dengan kalimat demikian.

Menurut Taj Yasin Maimoen tingkah Fadli Zon yang membuat puisi ‘ Doa yang Ditukar’ telah menimbulkan kegaduhan di masyarakat.

Taj Yasin Maimoen mengatakan seharusnya sebagai seorang tokoh Fadli Zon dapat memberikan contoh yang baik.

“Bikin gaduh, dia itu tokoh loh, dia itu publik figure yang mestinya memberikan contoh yang baik kepada masyarakat,” jelas Taj Yasin Maimoen.

“Tidak menimbulkan kerisauan bahkan kemarahan,” tambahnya.

Taj Yasin Maimoen mengaku seusai puisi tersebut ramai diperbicangkan, banyak santri di pesantren KH Maimoen Zubair marah.

“Dan sekarang banyak para santri Kiai Maimoen yang marah atas puisi ini,” ujar Taj Yasin Maimoen.

Pasalnya apabila kata ‘kau’ dalam puisi itu memang ditujukan untuk KH Maimoen Zubair maka sama saja Fadli Zon mengatakan pendiri Pesantren Al-Anwar Sarang itu adalah sosok yang bisa didikte.

Taj Yasin Maimoen menjelaskan hal tersebut dapat menurunkan derajat KH Maimoen Zubair sebagai seorang Mujtahid.

No comments:

Post a Comment