Mohon Maaf, Pak Jokowi Agak Ceroboh - Jelajah Nasional

Wednesday, February 6, 2019

Mohon Maaf, Pak Jokowi Agak Ceroboh

Jelajah Nasional – Propaganda Rusia menjadi pembicaraan di kalangan dua kubu capres yang berlaga pada Pilpres 2019. Hal itu bermula dari pernyataan Jokowi yang menyebut sebuah artikel dari Christopher Paul dan Miriam Matthews. Kedua penulis itu mengungkap Firehose of Falsehood.

Pernyataan propaganda Rusia ini pun mendapat respons dari pihak Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi. Wakil Ketua BPN Priyo Budi Santoso mengeluhkan sikap Jokowi tersebut. Atas pernyataannya sebagai presiden, Kedutaan Besar Rusia sampai angkat bicara.

“Jadi kali ini mohom maaf saya harus mengatakan Pak Jokowi agak ceroboh. Pernyataan beliau mengagetkan dan ternyata dibantah oleh Kedutaan Besar Rusia. Bahkan Pak duta besar sendiri menyampaikan rasa tidak nyamannya,” ujar Priyo saat ditemui di Kantor KPU, Jakarta, Rabu (6/2).

Priyo Budi Santoso: Mohon Maaf, Pak Jokowi Agak CerobohCapture twitter Kedubes Rusia untuk Indonesia (Twitter/RusEmbJakarta)

Alasan Priyo menyebut Jokowi ceroboh yakni, konotasi propaganda Rusia sangat buruk. Apalagi bentuk propaganda Rusia berupa strategi menerapkan kebohongan dan menakuti-nakuti masyarakat.

“Ketika Rusia disebut-sebut dalam konotasi yang tidak baik karena berhubungan dengan hoax, kami tim BPN 02 termasuk saya agak prihatin. Presiden tergesa-gesa dan grusa-grusu menyampaikan itu,” katanya.

Sekjen Partai Berkarya ini mengaku takut hubungan antara Indonesia dengan Rusia ikut terpengaruh atas statement Presiden Jokowi yang menyebut propaganda Rusia di depan publik. “Saya tidak tahu kalau nanti akhirnya Presiden Putin membaca itu,” pungkasnya.

Untuk diketahui, menyeruaknya soal propaganda Rusia ini setelah Jokowi mengungkap ke publik. Bahkan strategi itu kerap disebut-sebut oleh Tim Kampanye Jokowi-Ma’ruf Amin. Mereka menyatakan strategi itu digunakan kubu capres nomor urut 02 Prabowo Subianto. Alasannya kubu itu dituding menggunakan kebohongan dan data tidak valid ke publik.

Belakangan pernyataan propaganda Rusia ini mendapat respons dari Kedutaan Besar Rusia untuk Indonesia. Lewat akun Twitter-nya @RusEmbJakarta menuliskan tentang propaganda ala Rusia.

“Kami menggarisbawahi bahwa posisi prinsipil Rusia adalah tidak campur tangan pada urusan dalam negeri dan proses-proses elektoral di negara-negara asing, termasuk Indonesia yang merupakan sahabat dekat dan mitra penting kami,” tulis akun Twitter Kedubes Rusia untuk Indonesia, Senin (4/2).

Kedubes Rusia juga menambahkan, istilah tersebut tidak berdasarkan pada realitas yang ada. Namun strategi itu pernah dilakukan untuk kepentingan Pilpres 2016 di Amerika Serikat.

“Sebagaimana diketahui istilah ‘propaganda Rusia’ direkayasa pada tahun 2016 di Amerika Serikat dalam rangka kampanye pemilu presiden. Istilah ini sama sekali tidak berdasarkan pada realitas,” tulisnya.

Sementara, Jokowi mengatakan ada salah satu pasangan capres dan cawapres menggunakan konsultan asing dalam menghadapi Pilpres 2019. Pasangan capres tersebut dituding menerapkan strategi propaganda Rusia dalam hajatan lima tahunan ini. Contoh menyebarkan kebohongan ke masyarakat.

“Semburkan dusta sebanyak-banyaknya, semburkan kebohongan sebanyak-banyaknya, semburkan hoax sebanyak-banyaknya sehingga rakyat menjadi ragu. Memang teorinya seperti itu,” katanya di Surabaya.

Salah satu contohnya, sebut Jokowi, soal tujuh kontainer surat suara tercoblos, hoax penganiayaan Ratna Sarumpaet. Ketika itu Ratna masih bergabung dalam Badan Pemenangan Nasional Prabowo-Sandi.

Editor           : Ilham Safutra

Reporter      : Gunawan Wibisono

Copy Editor : Fersita Felicia Facette


Artikel yang berjudul “Mohon Maaf, Pak Jokowi Agak Ceroboh” ini telah terbit pertama kali di:

Sumber berita

No comments:

Post a Comment