Pemilu 2019 Serentak, Gaung Pileg Kalah oleh Pilpres - Jelajah Nasional

Monday, February 4, 2019

Pemilu 2019 Serentak, Gaung Pileg Kalah oleh Pilpres

Jelajah Nasional – Ancaman golput belum bisa lepas dari penyelenggaraan pemilu pascareformasi. Sejak Pemilu 1999, pemilih yang tidak menggunakan hak pilihnya cenderung meningkat. Khususnya pada tiga edisi pilpres terakhir. KPU dan parpol dituntut bekerja lebih keras untuk menurunkan tingkat golput pada pemilu tahun ini.

Tuntutan tersebut disuarakan dalam diskusi yang melibatkan sejumlah elemen masyarakat di Jakarta kemarin (3/2). Itu terjadi setelah muncul kelompok yang memprotes kegaduhan pilpres dengan mengajak masyarakat untuk golput. “Pemilu itu bukan hanya pilpres. Ada lima surat suara yang berbeda,” ujar Direktur Eksekutif Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi Titi Anggraini.

Selama ini, tingkat partisipasi warga pada pemilu memang berbeda, bahkan berbanding terbalik antara pilpres dan pileg. Saat masih terpisah, tingkat partisipasi di pileg selalu lebih tinggi daripada pilpres. Tren partisipasi pemilih pada pileg selalu meningkat, kecuali pada 2009. Sementara itu, partisipasi pemilih pada pilpres konsisten turun.

Pemilu 2019 Serentak, Gaung Pileg Kalah oleh PilpresSurat suara capres 2019 di percetakan. (Fedrik Tarigan/Jawa Pos)

Tahun ini pileg dan pilpres diselenggarakan bersamaan. Persoalannya, ruang publik telanjur didominasi kegaduhan pilpres, alih-alih semaraknya pileg. “Maka, harus dilakukan cara-cara supaya bukan golputnya yang naik seperti pilpres, melainkan golputnya turun seperti pileg,” lanjut perempuan asal Palembang itu.

Bila dominasi pilpres itu berlanjut, dampaknya bisa berbahaya karena golput berisiko meningkat. Misalnya, orang memutuskan golput karena menganggap pilpres tidak sesuai harapan. Padahal, masih ada empat surat suara lain yang perlu mendapatkan perhatian. Bila pemilih memutuskan golput karena alasan pilpres, pileg juga akan terdampak.

Menurut Titi, sudah saatnya ada strategi untuk mencegah potensi golput tersebut. “Partai politik peserta pemilu dan caleg harus bekerja maksimal mengajak pemilih untuk datang ke TPS,” tuturnya. Apalagi, pada pileg kali ini, ada hampir 300 ribu caleg, baik DPR, DPD, maupun DPRD.

Seharusnya, banyaknya jumlah caleg lebih mendorong pemilih untuk datang ke TPS. Sebab, setiap caleg tentu tidak maju dengan tangan kosong. Mereka pasti punya modal berupa basis pemilih di dapil masing-masing. Anggap saja setiap caleg punya basis pemilih rata-rata 600 orang yang berbeda. Maka, tingkat partisipasi pemilih bisa dipastikan lebih dari 75 persen bila semua menggunakan hak pilihnya.

Sosialisasi paling mendasar adalah mengedukasi pemilih bahwa Pemilu 2019 bukan hanya pilpres. Ada empat surat suara pileg yang akan menentukan siapa wakil rakyat yang duduk di parlemen. Tentunya, setiap caleg juga punya kepentingan agar mereka terpilih dan duduk di kursi parlemen.

Di sisi lain, Titi menyebut KPU masih kurang dalam hal sosialisasi. Khususnya, sosialisasi bahwa pada 17 April masyarakat akan mencoblos lima surat suara. Selama ini, yang tampak menonjol di publik adalah pemilu berlangsung 17 April. Sementara itu, ruang publik telanjur diisi oleh keriuhan pilpres.

Sementara itu, Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) memiliki cara lain dalam mengajak pemilih ke TPS. Sekjen AMAN Rukka Sombolinggi menjelaskan, pihaknya mengusung caleg-caleg yang menjadi representasi masyarakat adat. “Kami punya 156 caleg di semua tingkatan. Baik DPR, DPD, DPRD, provinsi, dan DPRD kabupaten/kota,” terangnya.

Karena mereka diusung oleh masyarakat adat, sudah menjadi kewajiban bagi komunitas adat memenangkan mereka. Caranya tentu saja dengan membawa sebanyak-banyaknya pemilih ke TPS untuk mencoblos nama mereka. Pemilih dibebaskan untuk memilih partai mana pun. Yang terpenting, caleg yang dipilih adalah calon yang diusung masyarakat adat.

Keterpilihan para caleg tersebut juga membawa aspirasi tersendiri. Yakni, memastikan terbitnya regulasi yang mampu melindungi eksistensi masyarakat adat. Baik dalam bentuk UU maupun peraturan daerah. Dengan demikian, masyarakat adat bisa mendapatkan perlindungan atas hak-hak mereka. 

Editor           : Ilham Safutra

Reporter      : (byu/c6/oni)


Artikel yang berjudul “Pemilu 2019 Serentak, Gaung Pileg Kalah oleh Pilpres” ini telah terbit pertama kali di:

Sumber berita

No comments:

Post a Comment