Strategi Firehouse of Falsehood ala Prabowo - Jelajah Nasional

Saturday, February 9, 2019

Strategi Firehouse of Falsehood ala Prabowo

Ada dugaan Prabowo-Sandi menggunakan konsultan politik yang sama dengan konsultan politik Donald Trump. Jika dugaan tersebut benar maka, apa yg dilakukan oleh Ratna Sarumpaet dalam kasus hoax penganiayaannya, adalah bagian dari teknik Firehose of the Falsehood. Jadi ini adalah bagian kebohongan kentara (obvious lies) yg direncanakan utk membangun ketakutan.

Wakil Ketua TKN Jokowi-Ma’ruf Amin, Arsul Sani, meminta agar Polri menyelidiki kemungkinan adanya penerapan teknik propaganda ala Rusia yang dikenal sebagai firehose of the falsehood dalam kasus Ratna Sarumpaet. Propaganda seperti ini sangat kental dengan Orde Baru dan PKI pada jamannya.

Teknik firehose of the falsehoods ini membutuhkan kebohongan-kebohongan yg dilakukan secara repetitive dan terus menerus. Maka, tampaknya kita akan menyaksikan model Pilpres Amerika Serikat 2016 di Indonesia pada Pilpres Indonesia 2019 ini.

Coba kita amati beberapa peristiwa yang terjadi, dimana upaya membangun ketakutan-ketakutan masyarakat itu sudah terus menerus dilakukan. Mulai dari Pidato Prabowo yang bilang Indonesia Tahun 2030 kemungkinan besar sudah musnah.

Setelah itu dikembangkan pemberitaan tentang pembakaran mobil Neno Warisman yang setelah diselidiki ternyata bukan dibakar oleh orang lain, melainkan akibat arus pendek pada kelistrikan mobilnya.

Selain ciri berusaha menimbulkan ketakutan pada publik, tambah Arsul, propaganda ini juga disertai dengan teknik playing victim untuk menimbulkan kesan pada publik bahwa pelaku pembohongan adalah korban yang teraniaya oleh satu pihak yang diasosiasikan dengan kelompok penguasa.

Kalau melihat dari beberapa peristiwa diatas, juga dari cara-cara yang dilakukan, kuat dugaan Tim Prabowo-Sandi memang menggunakan tekhik firehose of the falsehood. Tapi apakah dengan mengdobsi teknik tersebut berarti sekaligus menggunakan Konsultan Politik yang digunakan Trump pada Pemilu Presiden Amerika 2016,? Wallahu’alam.

Menarik menyimak lebih dalam perihal tekhnik Firehose of The Falsehood ini. Seperti yang dituliskan Dosen Dosen FTSP ITB, PhD student of Oxford UK, Ahmad M Firdaus, dalam sebuah artikelnya yang berjudul, “”Hoax RS dan Teknik Propaganda Firehose of The Falsehood.””

Firdaus menganalisis Prabowo-Sandi menggunakan konsultan politik yg sama dgn konsultan politik Donald Trump. Hal tersebut dinilainya berdasarkan Hoax penganiyaan yang dilakukan RS. Apa yang dilakukan RS dinilai adalah bagian kebohongan kentara (obvious lies) yg direncanakan utk membangun ketakutan.

Masih menurut Firdaus, Genetic of Politics menunjukkan orang konservatif dan progressive memiliki pola kerja otak yg berbeda. Konservatif memiliki amygdala yg lebih aktif sementara progressive memiliki insula yg lebih aktif.

Jadi obvious lies yg kita lihat akhir-akhir ini adalah untuk men-triggeramygdala para calon pemilih. Teknik firehose of the falsehoods ini memang utk membangun ketidakpercayaan terhadap informasi dan membuat amygdala masyarakat aktif secara terus menerus.

Amygdala adalah bagian otak yg tergolong primitive, karena berhubungan dengan kemampuan kita bertahan (survival instinct). Sementara, dibutuhkan tingkat kecerdasan tertentu bagi sesorang agar Insula-nya lebih aktif.

Seperti yg dapat dibaca dari data Cambridge Analytica, pemilih konservatif memang cenderung akan memilih Prabowo-Sandi. Jadi trigger amygdala ini akan berfungsi utk membuat bimbang kelompok yg ada ditengah dimana selain insula nya aktif, amygdala-nya masih sedikit lebih dominan.

Jadi apa yang dicurigai oleh Asrul Sani, sangat sejalan dengan hasil Analisis Ahmad M Firdaus tentang ada kemungkinan Tim Prabowo-Sandi memakai tekhnik Firehose of The Falsehood, sangatlah mengandung kebenaran, sesuai pola strategi Politik yang diterapkan dalam pola kampanye politiknya. Propaganda Politik seperti ini bukanlah barang baru, Orde Baru dan PKI pun memakai Tekhnik Propaganda seperti itu.”

No comments:

Post a Comment