Detik-detik Pengungkapan Kasus Hoaks Penganiayaan Ratna Sarumpaet - Jelajah Nasional

Tuesday, March 26, 2019

Detik-detik Pengungkapan Kasus Hoaks Penganiayaan Ratna Sarumpaet

Jelajah Nasional – Sidang lanjutan terdakwa Ratna Sarumpaet di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Selasa (26/5), menghadirkan enam saksi yang diajukan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU). Saksi yang dihadirkan di antaranya merupakan saksi penyelidik dan penyidik pengungkapan kasus drama penganiayaan Ratna Sarumpaet.

Ketiga saksi yang dihadirkan adalah Kanit Subdit Jatanras AKP Nico Purba, Arif Rahman, dan Dimas CH. Kehadiran tiga orang saksi dari penyidik Polda Metro Jaya itu sempat ditolak oleh tim kuasa hukum Ratna.

Tim kuasa hukum beralasan, mereka keberatan terhadap saksi yang merupakan penyelidik, penyidik, dan pelapor. Sebab menurutnya, sangat bertentangan dan ada konflik interest. Sehingga kesaksian dari penyidik ada unsur subjektivitas.

Detik-detik Pengungkapan Kasus Hoaks Penganiayaan Ratna SarumpaetRatna Sarumpaet menjalani sidang di PN Jakarta Selatan (Salman Toyibi/ Jawa Pos)

Saksi yang pertama dihadirkan dalam persidangan yaitu Nico Purba. Dia menjelaskan kepada majelis hakim mengenai kronologi pengungkapan kasus Ratna Sarumpaet hingga proses hukum berjalan.

Berawal dari perintah dari atasannya, Nico menerima instruksi untuk mencari informasi kabar penculikan dan penganiayaan yang menimpa aktivis kemanusiaan, Ratna Sarumpaet di Bandara Husein, Bandung, 21 September 2018.

Atas perintah tersebut, dia bersama tim langsung mencari informasi kebenaran berita tersebut. Nico dan tim membentuk ring/zonasi penyelidikan yang tersebar di beberapa titik antara Jakarta dan Bandung.

“Setelah mendapat kabar adanya penculikan dan penganiayaan yang dialami Ratna Sarumpaet, otomatis langsung dilakukan penyelidikan untuk mengetahui bagaimana peristiwa terjadi dan siapa yang melakukan. Kami pun berkoordinasi dengan Polda Jabar,” ujar Nico menjawab pertanyaan JPU.

Akan tetapi, dari hasil penyelidikan tidak ditemukan adanya laporan mengenai tindak penganiayaan di bandara. Begitu juga fakta-fakta yang didapat dari informasi lain bahwa tidak ada kejadian penganiayaan.

Meskipun begitu, tim bergegas menyebar ke berbagai zona. Setelah itu mendapat informasi bahwa pada tanggal kejadian, tim penyelidik mendapat kabar bahwa foto wajah lebam Ratna Sarumpaet yang tersebar di media sosial akibat pernah dirawat di RS Bedah Khusus Bina Estetika.

“Kami menemui pihak rumah sakit. Karena kami ingin mencari informasi terkait korban penganiayaan. Akan tetapi, yang bersangkutan bukan dianiaya, tapi sedang menjalani operasi wajah pada 21 September,” terang Nico.

Dari informasi itu, kemudian penyelidikan berlanjut dan mendapati dokumen pembayaran, kwitansi, dan dan struk pembayaran debit BCA dengan tiga kali pembayaran.

“Kami mengecek dokumen jadwal operasi, terjadwal 21 September 2018 untuk Ratna Sarumpaet. Jadwal operasi bagian wajah. Tim penyidik mendapatkan ada tiga kali pembayaran, Rp 25 juta, Rp 25 juta, dan Rp 40 juta. Jadi, total kurang lebih Rp 90 juta,” ungkapnya saat ditanyakan oleh para jaksa penuntut umum.

Di samping itu, penyelidik juga menyamakan fokus latar foto wajah lebam dengan wallpaper di rumah sakit. Tak sampai di situ, tim penyidik mengamankan barang bukti lain berupa CCTV. Kebetulan, pada 21 hingga 23 September 2018 CCTV tidak ter-record. Akan tetapi pada tanggal 24 September, CCTV merekam aktivitas Ratna tengah meninggalkan rumah sakit.

Untuk memastikan perempuan berkerudung biru dalam rekaman CCTV itu Ratna Sarumpaet atau bukan, tim penyidik lantas mengonfirmasikannya kepada pihak rumah sakit, petugas keamanan, dan pasien lain.

“Perawatan operasi wajah Ratna Sarumpaet ditangani langsung oleh Dokter Sidik Setia Miharja. Kemudian, CCTV hanya merekam tanggal 24 September yang diduga RS pulang dari rumah sakit ditemani perawat,” ujarnya.

Editor           : Bintang Pradewo

Reporter      : Wildan Ibnu Walid

Copy Editor : Fersita Felicia Facette


Artikel yang berjudul “Detik-detik Pengungkapan Kasus Hoaks Penganiayaan Ratna Sarumpaet” ini telah terbit pertama kali di:

Sumber berita

No comments:

Post a Comment