Ngeri, Sampahnya Sudah Banyak - Jelajah Nasional

Saturday, March 2, 2019

Ngeri, Sampahnya Sudah Banyak

Jelajah Nasional – Setelah diberlakukan mulai 1 Maret, kebijakan kantong plastik tidak gratis (KPTG) mulai diterapkan sejumlah ritel anggota Aprindo. Meski, itu belum secara menyeluruh.

Sebagaimana diberitakan, Aprindo menerapkan KPTG dengan biaya yang dianjurkan Rp 200 hingga Rp 1.000 per kantong.

Pantauan Jawa Pos di beberapa ritel modern di Jakarta Barat dan Jakarta Selatan, biaya tambahan kantong plastik belum sepenuhnya diterapkan. Superindo dan Alfamart sudah memasukkan biaya tambahan Rp 200 hingga Rp 500 per kantong. Namun, di Indomaret dan Alfamidi masih gratis.

Ngeri, Sampahnya Sudah BanyakRitel kini mulai menerapkan kantong plastik berbayar untuk konsumennya. Langkah itu untuk mengurangi konsumsi plastik. (Nelvi/Radar Bogor/Jawa Pos Group)

Di Superindo Kelapa Dua, Pos Pengumben, Jakarta Selatan, pelanggan terlihat membawa kantong dari rumah masing-masing. Mayoritas memakai kantong berbahan kain dan berukuran besar. Salah satunya, Rini Ernawati. Perempuan 40 tahun tersebut membawa kantong kain hijau berukuran 40 x 20 x 7 cm. Kantong itu mampu memuat 2 bungkus minyak ukuran 2 liter, 2 botol air mineral 600 ml, dan beberapa jajanan kecil lainnya. “Saya sih suka dengan aturan kantong plastik berbayar ini,” ucap dia.

Menurut Erna, langkah tersebut diharapkan mampu mengurangi jumlah sampah plastik. Terutama di Jakarta. “Kalau lihat di berita itu ngeri. Sampahnya udah banyak,” katanya.

Kasir Superindo Nanda Permana mengatakan, pelanggan harus membayar kantong plastik Rp 200 untuk semua ukuran. Kantong plastik yang digunakan juga sudah ramah lingkungan. Akan hancur dalam waktu dua tahun.

Sementara itu, Merchandiser Alfamidi Kebayoran Lama Armansyah mengaku sudah mendengar kebijakan KTPG dimulai per 1 Maret. Namun, dia belum menerima instruksi dari perusahaan untuk menerapkan aturan KTPG.

Di Indomaret Rawa Belong, Jakarta Barat, Merchandiser Indomaret Supriyadi mengatakan, KPTG mengajarkan gaya hidup ramah lingkungan. Meski, di sisi lain juga merepotkan pelanggan yang berbelanja banyak. Misalnya, saat penerapan pada 2016.

Mayoritas pelanggan lebih memilih membeli kantong plastik. Sebab, harganya yang sangat terjangkau dan tidak ingin repot membawa barang belanjaan yang banyak. “Tapi, ada juga yang beli air mineral besar nggak mau pakai kantong. Jadi, ditenteng aja gitu,” ucapnya.

Hal serupa terjadi di Surabaya. Jawa Pos kemarin memantau beberapa toko ritel di Surabaya. Di Jalan KH Mas Mansyur No 426, misalnya. Ritel di sana telah memberlakukan KPTG. Besarannya Rp 200 per kantong plastik. Meski KPTG sudah diterapkan, belum ada semacam papan pemberitahuan mengenai penerapan plastik berbayar. Baik dalam bentuk spanduk, papan, maupun banner pengumuman.

Petugas Alfamart Nurul Fauzi menuturkan, pihaknya mengetahui kebijakan tersebut dari grup. Selain menyediakan kantong plastik, pihaknya menyediakan kantong berbahan kain. Kantong itu dihargai Rp 3.500.

Lottemart Pakuwon Mall juga sudah memberlakukan kantong plastik berbayar. Hal tersebut disosialisasikan pihak supermarket melalui akun media sosial sejak akhir Februari. Kemarin di pintu masuk supermarket terlihat banner hijau bertulisan “Kantong Plastik Nggak Asik”. Tulisan itu disertai imbauan untuk mengurangi penggunaan kantong plastik. Sekaligus ajakan untuk ikut menjaga bumi.

Di setiap kasir juga dijual reusable bag. Tas belanja yang bisa dipakai berulang-ulang itu dijual dengan harga Rp 15.000-Rp 20.000. Arwin Arin Rinenda selaku head store menuturkan, kebijakan kantong plastik berbayar itu mengikuti imbauan dari Aprindo.

Regulasi tersebut mulai diberlakukan pihak supermarket pada Jumat (1/3). Meski tidak berefek pada penjualan, Arwin tidak memungkiri bahwa masih ada beberapa pelanggan yang masih belum tahu. “Masih ada yang terkaget-kaget. Katanya, ‘Lho, kok bayar sih’,” ujarnya menirukan salah seorang pelanggan. 

Editor           : Ilham Safutra

Reporter      : (han/rin/mia/jar/hay/elo/c10/fal)


Artikel yang berjudul “Ngeri, Sampahnya Sudah Banyak” ini telah terbit pertama kali di:

Sumber berita

No comments:

Post a Comment